Curhatan Anak Kuliahan: Kuliah di Luar Negri? Siapa Takut!

Ilustrasi Toga (PRiscope, 2014)
Gw kuliah di luar negeri yang memang bukan negara yang elit-elit amat: Malaysia – Kuala Lumpur. Ambil jurusan IT (Information Technology), spesialisasi di Intelligent Systems (juga dikenal Artificial Intelligence – AI).
Kampus gw cukup terkenal dengan IT nya, secara memang kampus khusus IT, beberapa kali menjuarai Microsoft Imagine Cup. Tapi kalo ditanya apa nama kampusnya, gw sedikit bingung. Selain namanya panjang, namanya juga barusan ganti, semenjak statusnya ganti dari Institute -> University College -> University. Dulu namanya: Asia Pacific University College of Technology and Innovation (UCTI), sekarang namanya Asia Pacific University of Technology and Innovation (APU).
Di sini, setelah lulus, gw dapet 2 sertifikat. Pertama dari Staffordshire University (UK), yang kedua sertifikat dari UCTI (Malaysia) nya sendiri.

Kenapa gw pilih kuliah di luar? Hmm.. sebenernya karena dari kecil memang mau tinggal jauh-jauh dari rumah (maklum, anak bandel :P).
Berhubung kampus gw itu kampus internasional, jadi bahasa pengantarnya adalah Bahasa Inggris. Untuk kelas IT, murid-muridnya kebanyakan dari beberapa negara berikut: Malaysia (kebanyakan Chinese atau India), Indonesia, India, Iran. Sedangkan kalo untuk jurusan bisnis, negaranya lebih bervariasi dan lebih banyak ceweknya. Untuk guru-guru IT pun, kebanyakan India atau Pakistan, Malaysia, dan ada satu guru US yang sering kita panggil Obama (karena dia mirip Obama versi putih).
Berdasar pengalaman-pengalaman gw selama beberapa tahun di KL, gw ngeliat sistem pendidikan kita ternyata masih kalah jauh dibanding di KL (sebenernya gw lebih membandingkan kampus gw, dengan beberapa kampus IT ternama di Indonesia).

 

Dari awal gw masuk, ada yang namanya orientasi. Bedanya, orientasi di sini ga menakutkan seperti di Indonesia. Ga ada cerita mahasiswa baru (maba) dipukulin, diospek, atau disuruh yang aneh-aneh. Kita ga disuruh bawa kacang hijau 2010 biji, ga disuruh pake tas dari karung beras, ga disuruh kepang rambut pake tali rafia, dan juga ga disuruh bawa barang-barang yang clue nya aneh-aneh.

 

Orientasi di sini bener-bener menyenangkan. Bikin kita ngerasa pengen orientasi terus sampe lulus *lebay*. Berikut yang diajarkan selama 3-4 hari orientasi:
  • Aturan-aturan kampus. Dari cara ngumpulin tugas (kita ngumpulin tugas ke admin, bukan langsung ke guru), aturan absensi dan keterlambatan, cara mendapat kartu ujian (di kampus gw, ujian ga boleh tulis nama, supaya gurunya objektif dalam memeriksa lembar jawaban), sampai soal plagiarism (yang kalo ketahuan bisa dikeluarin).
  • Berkenalan dengan sesama murid dari jurusan yang berbeda-beda.
  • Berkeliling kampus untuk pengenalan ruangan-ruangan kampus.
  • Pengenalan staff atau yang biasa disebut student services.
  • Pengenalan aktivitas-aktivitas di luar belajar mengajar (lebih dikenal ekstra kulikuler).
  • Pembagian user id, password untuk intranet system.
  • Games: nyanyi-nyanyi, keliling-keliling kampus nyari jawaban.
  • Pengenalan jurusan yang dipilih: mata kuliahnya, spesialisasinya, penilaiannya.
  • dan lainnya.

 

Enaknya lagi, kalo belajar di LN, kita ga perlu capek-capek belajar buang-buang waktu belajar Bahasa Indonesia, PKN, Sejarah, atau apapun itu yang dari SD sampe SMA diulang-ulang terus sampe muak tapi tetep ga ada yang nyantol di otak (seenggaknya begitu menurut gw).
Di LN, Sarjana atau S1 untuk jurusan IT, hanya ditempuh dalam waktu 3-3,5 tahun (kalo ga ada mata kuliah yang gagal lho, ya), tergantung universitasnya. Kalo universitasnya menerapkan sistem magang, mungkin bisa 3,5 tahun. Tanpa magang, semua beres dalam waktu 3 tahun.

Mungkin sebagian pada bingung, kok bisa cepet banget ya, cuma 3 tahun? Eits, jangan salah dulu. Gw sering denger temen-temen gw di Indo yang tahun terkahir (skripsi) itu santaaaaiiiii banget. Kalo ditanya, pasti jawabnya: ‘Ah, gw kan tinggal skripsi doank.’ Nah di sini, ga ada istilah ‘tinggal skripsi doank’. Tahun terakhir itu justru tahun paling sibuk. Karena selain ngerjain skripsi, masih banyak tugas lain yang bener-bener menumpuk. Dan tahu sendiri lah, gimana kuliah IT? Semua tugas nya itu udah project base. Butuh sistem yang bener-bener jalan, lengkap dengan database (kalo diperlukan) serta dokumentasinya. Lengkap.. kap kap!! To make it worst, skripsi itu juga harus bikin sistem / aplikasi dan dikerjakan secara individual! Jangan harap bikin website ga jelas tujuannya dan spesialnya di mana, bisa lulus buat skripsi.

Ulasan tentang pengajuan judul skripsi di kampus gw, bisa disimak di SINI.

Banyak isu beredar kalo ijazah S1 di LN hanya setara dengan ijazah D3 di Indonesia. Memang sebagian kampus, kredit nya tidak mencukupi untuk disetarakan dengan S1 di Indonesia (inget kan kalo di Indonesia ada pelajaran ‘ga mutu’ yang juga masuk sebagai mata kuliah?). Tapi untungnya ijazah S1 di kampus gw setara dengan ijazah S1 di Indonesia.

Sebenernya soal ijazah tidak perlu terlalu khawatir, apalagi di jaman globalisasi begini, perusahaan-perusahaan pun pemikirannya lebih terbuka dan banyak yang ga mempermasalahkan ijazah S1 luar negri. Mungkin bisa jadi bermasalah kalo nantinya mau ambil S2 di kampus tertentu di Indonesia atau bekerja di perusahaan pemerintah. Namun dari pengalaman teman-teman gw, perusahaan-perusahaan internasional sepertinya lebih menghargai ijazah luar negeri, tanpa mempedulikan apakah ijazah itu setara dengan standard S1 di Indonesia atau tidak.

Sampai detik ini sih, gw ga pernah bermasalah sama ijazah. Ijazah gw diakui secara internasional sebagai lulusan S1. Buktinya, gw bisa kerja di Malaysia, Singapore, dan sudah terbukti kalo ijazah gw juga diakui di Australia.

Bagi adik-adik yang mungkin sedang kebingungan mencari-cari jurusan yang tepat dan kuliah di mana, ga ada salahnya mencoba kuliah di LN. Selain jadi makin mandiri, makin jago bahasa asing, makin banyak teman dari berbagai negara, makin open-minded, wawasan juga makin luas!

PS: Buat yang mau tahu perincian biaya hidup di Kuala Lumpur per bulannya, bisa mampir ke SINI.

Selamat berjuang!

Share this!

12 thoughts on “Curhatan Anak Kuliahan: Kuliah di Luar Negri? Siapa Takut!

  1. Hi, salam kenal, nama saya Rudy. Anak saya kelas 2 SMA di bandung sekarang. Lagi mikirin kalo-kalo mau kuliahin di Malaysia…. Boleh minta email nya aja ?

    Thanks

  2. Hai salam kenal. Makasih ya udah share pengalaman kuliah nya di Malaysia. Saya mahasiswa S1 di salah satu univ di Indonesia, tapi akhir2 ini saya minat mau kuliah di Malaysia. kira2 dapet beasiswa kuliah di malaysia itu susah ga sih?

  3. halo kak 🙂 mau nanya suka duka kuliah disana apa ya kak ?
    soalnya aku juga ada rencana untuk kuliah di malaysia.
    tapi masih kurang tahu tantangan apa aja yang akan dihadapi.
    dan juga kak katanya kalau kuliah di malaysia, lebih mudah dapet beasiswa s2nya ya kak?

  4. Halo Putri,

    Salam kenal, ya. Wah, rencana mau kuliah di mana nih?
    Kira-kira gini suka duka nya (lebih banyak sukanya sih dibanding dukanya):

    Suka:
    – Orientasinya ga disuruh aneh-aneh, menyenangkan.
    – Jadi lebih mandiri.
    – Punya temen mancanegara.
    – Bisa sekalian latihan bahasa Inggris.
    – Kalo udah lulus, lebih gampang dapet kerjaan di sini.
    – Kuliahnya lebih cepet, S1 cuma 3 tahun (tergantung jurusan dan kampusnya juga sih).

    Duka:
    – Jauh dari orang tua dan teman-teman.
    – Terkadang walaupun lulusan S1, cuma diakuin sebagai D3 di Indo.
    – Biayanya mungkin lebih mahal (tergantung kampus dan daerahnya).

    Kalo soal beasiswa gw ga tau, ga pernah nyari info tentang itu.

    1. Aku sih dulu pake agen pendidikan gitu. Mereka yang bantuin cari kampus di negara tujuan yang sesuai dengan kriteria dan budget kita. Abis itu, mereka juga bantuin pendaftaran dan segala macamnya, dari awal sampai selesai.

  5. ka kan belajarnya pakai b inggris,berarti dulu kaka udh jago b inggris yaa,aku mau kuliah ke kl juga tapi takut di bahasa:(

    1. Hi Putri,

      Iya segalanya pake bahasa Inggris, mulai dari komunikasi dengan teman / guru, presentasi, sampe ujian.

      Pas awal-awal masuk, aku juga ga cas cis cus banget kok. Sampe sekarang juga biasa-biasa aja. Asal bisa denger, ngomong, dan nulis udah cukup, ga perlu sampe bikin puisi. Hihihi..

      Beberapa kampus ada yang minta murid test ielts / toefl dulu. Biasanya minimal requirement nya 6 – 6,5 lah. Asal kamu bisa memenuhi syarat dari kampus, harusnya sih aman. Soal kosakata dan kelancaran, bisa belajar sambil jalan.

      Tapi kalo memang kamu bener-bener ga pede dan dirasa bahasa Inggrismu kurang, beberapa kampus juga menyediakan English Course. Mungkin kamu bisa mempertimbangkan untuk ambil English course dulu sebelum kuliah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.