Brain VS. Heart: Heartless or Brainless?

Dear Brain,
Maafkan aku, yang selalu ga pernah mau denger nasihatmu.
Brain, Aku sakit lagi… untuk yang kesekian kalinya. Selama ini, kamu memang selalu benar. Apa yang kamu khawatirkan, selalu jadi kenyataan. Aku ga ngerti, dan sepertinya terlalu bodoh untuk mengerti. Padahal, awalnya aku punya feeling yang begitu kuat, aku selalu optimis semua akan berhasil, tapi entah kenapa, akhirnya selalu berbeda dari yang aku bayangkan.

Kamu selalu menahanku untuk jatuh cinta. Kamu selalu bilang, cinta itu tidak boleh terlalu dalam. Nanti ujung-ujungnya, aku yang sakit sendiri. But I can’t help it. Aku selalu menggunakan seluruh jiwaku untuk mencintai meski sering tersakiti atas nama cinta. Berkali-kali aku berjanji padamu, tak akan kuberikan maaf semudah itu. Tapi aku tak pernah tega, dan berkali-kali juga, maaf itu meluncur begitu saja. Ya, semudah itu, lagi, dan lagi, dan lagi. Dan akhirnya, aku tetap naif dan percaya akan cinta. Love like I’ve never hurt before, seolah tak pernah belajar dari kesalahan.
Mungkin, yang lalu aku salah. Dan kali ini pun, aku salah. Namun, sampai detik ini, aku selalu optimis. Suatu saat nanti, aku bisa menemukan dia dan berkata padamu: ‘Brain, I’m sure he is the one‘. Entah kapan, entah siapa, entah di mana.
Kadang, aku membenci diriku sendiri. Aku sering bertanya untuk apa aku ada. Dan jawaban yang kutahu, aku hanya ada untuk disakiti dan untuk membuatmu sakit. Sepertinya, lebih baik manusia diciptakan tanpa perasaan.
Sekali lagi, maafkan aku, yang ga pernah mau denger nasihatmu.
Agustus 2011,
Heart

Dear Heart,
Walaupun kamu selalu melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan nasihatku, aku tidak pernah membencimu.
Kuingat jelas beberapa tahun lalu, saat kamu begitu saja memberikan kata maaf, dan melihatnya menyakitimu lagi untuk kesekian kalinya, aku marah. Bukan marah padamu, tapi marah padanya. Kenapa dia begitu buta sampai-sampai tidak bisa melihat ketulusanmu! Melihatmu begitu terluka, berlinang air mata, aku dan seluruh organ di bawah kontrolku pun, ikut sakit merasakan lukamu.
Atau saat kamu kecewa, kamu hanya mau mengurung diri berhari-hari di kamar dan menutup telingamu rapat-rapat, enggan mendengar ceramahku. Saat itu, aku dan seluruh organ di bawah kontrolku pun, akhirnya diam menemanimu.
Kamu tahu itu semua artinya apa? Artinya, aku dan seluruh organ di bawah kontrolku, sungguh sangat menyanyangimu. Kita merasakan apa yang kamu rasakan. Anehnya, justru saat sakit seperti itulah, aku merasakan kalo kita benar-benar hidup!
Ya, aku memang selalu menasihatimu agar tidak mencintai seseorang terlalu dalam. Aku takut, kalo kamu terus menerus tersakiti, kamu akan menjadi gila, mengutuk cinta dan akhirnya takut jatuh cinta. Aku sering melihat hal seperti itu terjadi. Tapi aku salah, kamu tidak serapuh yang aku bayangkan. Semakin kamu disakiti, kamu malah semakin kuat. Kamu tidak pernah takut untuk jatuh cinta lagi. Love, like you’ve never been hurt. Tetapi ingatlah, Heart, mencari The One, bukan hanya tugasmu saja. Tapi juga kewajibanku. Berjanjilah, kita tetap akan berjuang bersama.
Kamu mungkin tidak sadar kalau kamu adalah organ terpenting. Ketika kamu bahagia, kamu membuat aku dan seluruh organ di bawah kontrolku pun, bahagia. Lihat saja, bibir ini bersenandung, mata ini bersinar-sinar, dan kaki ini menjadi begitu ringan.
Ketika kamu mencintai, mata pun ikut memancarkan cinta, tangan ini lebih dermawan, bibir ini selalu mengucapkan yang manis-manis, telinga ini jadi lebih pendengar, dan jiwa terasa bersatu dalam raga. Semua itu membuat kita terlihat cantik natural. Sungguh berbeda jika aku yang memerintahkan bibir untuk tersenyum dan mata untuk bersinar, apalagi saat kamu sedang sakit.

Ketika melihat yang butuh bantuan, kamu lah yang pertama kali tergerak untuk membantu. Kamulah yang paling mengerti perasaan dia. Kamu yang paling mengerti apa yang harus kita perbuat, bahkan di saat aku belum mengerti apa yang terjadi.

Ketika menemui sesuatu yang tidak adil, kamu lah yang membuat semua organ ini berdiri tegak membela kebenaran. Kamu yang membuat wajah ini garang, mata ini berapi, kaki ini berdiri tak gentar, dan bibir ini berteriak meminta keadilan. Sedangkan aku merasa sebagai pecundang yang terus meneriakimu: ‘Mind our own business. Never try to be a hero!‘ Sampai suatu saat, aku membaca salah satu quote Martin Luther King , Jr: ‘The ultimate tragedy is not the oppression and cruelty by the bad people but the silence of the good people.’ Saat itu, aku malu, Heart. Malu akan keberanianmu. Terima kasih untuk tidak mendengarkan aku.

Tetapi di sisi lain, kamu yang selalu membuat bibir ini terdiam saat ingin teriak, ingin memaki, atau adu argumentasi. Kamu yang selalu menjaga nada suara ini tetap lembut, menjaga tangan ini untuk tidak memukul. Karena bagimu, it’s better to be kind than to be right.

Kamu, membuat kita dicintai orang lain.
Kamu, membuat orang-orang tetap memiliki faith in humanity.
Kamu, membuat dunia lebih baik.
Tetaplah menjadi dirimu sendiri. Tetaplah berjalan di jalan yang benar. Aku akan terus menjagamu dari belakang. Please never stop loving.

Bersama, kita seimbang ^^


Februari 2012,
Brain

Share this!

4
Leave a Reply

4 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of

Thank you Dema 😀

Only two words: Beautifully Written 🙂

Wah serius? terima kasih… gw jadi terharu, kisah kegalauan gw dibilang indah :')
ga keberatan kok, itung-itung sekalian numpang nama. Hahahaha..

Bukunya kalo udah jadi bilang-bilang ya. Gw hobi bacain buku 😀

Salah satu tulisan terbaik yang pernah kubaca, kerja sama antara otak dan hati. Indah sangat Indah 🙂

Suatu hari jika aku menulis buku tentang kisah-kisah dalam hidupku, aku harap kamu tidak keberatan jika kisah ini kucantumkan dalam bukuku, sebuah kisah tentang hati dan otak 🙂