Antara Tahu dan Tidak Tahu

Bayi dan anak-anak batita (bawah tiga tahun) punya rasa ingin tahu yang besar. Maklum saja, mereka baru keluar dari tempat yang sempit dan gelap, menuju dunia berukuran raksasa dan beraneka warna.
Mereka selalu tertarik dengan hal baru. Hal yang mungkin super simpel sekalipun, seperti bola yang empuk, boneka donal bebek, wiper mobil yang bergerak, bel rumah, denting piano, dan banyak lagi. Bahkan saat dia menangis, bermain dengan boneka Donal Bebek atau melihat pohon natal dengan lampu dekorasi berkelap-kelip saja sudah bisa menghentikan nangisnya.
Keponakan gw bermain bersama teman barunya, si Donal Bebek
Permainan cilukba yang menurut kita sangat membosankan, bisa membuat mereka tertawa kegirangan. Atau di saat mereka baru mengenal anjing, mereka akan mencoba menirukan suara anjing, ‘Guk Guk Guk’ berulang-ulang kali.


Semua barang pun akan dia tunjuk sambil berkata ‘Guk Guk Guk’. Sampai-sampai kita yang kewalahan meralat, ‘Itu bola, bukan guguk’.

Namun, pada akhirnya kita yang capek sendiri. Karena bahkan ketika mau tidur pun, dia masih menunjuk semua barang sambil menirukan suara anjing ‘Guk Guk Guk’.

Butuh puluhan cilukba atau puluhan kali si anjing harus mondar-mandir sampai akhirnya mereka terbiasa dan tidak lagi tertawa kegirangan saat melihatnya.

Selanjutnya mereka mulai lancar berbicara. Mereka akan bertanya tentang semua benda yang mereka temui: ‘Apa itu, Ma? Buat apa?’ atau ‘Ini apa, Pa? Kok bentuknya begini?’ Mereka akan mengamati, mengambil, dan bermain-main dengan benda tersebut sampai mereka akhirnya mengerti, ‘Ini namanya apel ya, Mami?’ Dan pada titik tersebut, mereka tidak lagi bertanya-tanya saat melihat apel.
‘Mobil ga bisa terbang, jadi kalo main mobil-mobilan begini, ngeng.. ngeng…‘ kita pun mengajarkan mereka, sambil memaju-mundurkan mobil di lantai. ‘Kalo pesawat bisa terbang’, sambil memperagakan pesawat yang terbang di udara. Dalam fase ini, mereka mulai belajar apa yang bisa dan tidak bisa, apa yang mungkin dan tidak mungkin. Kalimat-kalimat seperti ‘mobil tidak bisa terbang’, ‘mobil rodanya empat’, ‘manusia tidak bisa terbang’, ‘ini bisa itu, tapi tidak bisa ini’ akan tertanam di otaknya.
Hingga suatu saat ada temannya main,
‘Ngeng… ngeenngg…’ (Mengangkat mobil tinggi-tinggi dan menjalankannya di udara)
‘Bukan gitu mainnya. Mobil kan, ga bisa terbang.’
Itulah yang terjadi pada Copan, keponakan gw yang berumur 3.5 tahun, dan Mei-mei, adiknya, yang umurnya hampir 2 tahun.

Bagaimana reaksi mereka saat melihat maminya masuk ke kotak ajaib yang membuat badannya seolah-olah ‘hilang’? (Seperti yang gw contohkan di gambar berikut).

Kotak Ajaib

“Itu liat, Mami kok, bisa tinggal kepalanya doank, ya?” tanya gw sama Copan, sementara maminya lagi di dalam kotak ajaib sambil ketawa-ketawa manggilin Copan.

Copan melongo sedetik, dua detik, tiga detik, empat de… HUUAAA. Dia menangis ketakutan. Dia bahkan masih menangis walaupun maminya sudah datang dan menggendongnya. Sedangkan adiknya, malah ketawa-ketawa saja melihat maminya yang tinggal kepalanya saja.

Bahkan saat diberi tahu bahwa itu hanyalah trick bohong-bohongan dan ada ruangan di dalam, Copan tetap tidak mau mencoba dan ketakutan. Dia akhirnya baru mau masuk ke dalam setelah dibujuk berkali-kali dan setelah dia melihat papi dan adiknya berani mencoba dan kembali dengan selamat.

Copan yang baru berani mencoba setelah melihat papi dan adiknya kembali dengan selamat.
Begitu juga dengan kita, orang-orang dewasa pada umumnya. Saat melihat ada sesuatu yang tidak semestinya, seperti tas berjalan sendiri, atau teman kita melayang-layang di angkasa, apa kita bisa menerimanya? Kita mungkin akan ketakutan dan pingsan. Kenapa? Karena kita sudah tahu bahwa tas tidak mungkin bisa berjalan sendiri, dan manusia tidak bisa terbang atau melayang-layang. Akankah kita merasakan ketakutan yang sama, saat melihat benda yang sama, ketika kita masih bayi? Saat kita belum mengerti kalau mobil dan manusia tidak bisa terbang?
Disadari atau tidak, seiring berjalannya waktu, semakin dewasa, kita semakin tahu kalo things are not that simple. Semakin banyak yang kita tahu, semakin rumit hidup kita, semakin banyak masalah kita dan semakin besar ketakutan kita.
Andai ketakutan dan kesedihan kita dapat hilang dengan mudahnya hanya dengan bermain Donal Bebek…
Share this!

One thought on “Antara Tahu dan Tidak Tahu

Leave a Reply

Your email address will not be published.