Jalan-Jalan Terus: Wisata Kuliner di Kota Melaka

Terletak sekitar 150 km dari Kuala Lumpur, Melaka merupakan salah satu kota bersejarah yang juga terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 2008. Dari penjelasan singkat tersebut, bisa dipastikan para pencinta sejarah tidak akan melewatkan kota yang satu ini jika berkunjung ke Malaysia.
Berhubung gw bukan pencinta sejarah, tujuan gw ke kota Melaka pastinya bukan untuk mengunjungi museum sejarah. Lah, terus, apa tujuan gw ke kota Melaka?

Ternyata, selain terkenal dengan sejarah dan budayanya, kota Melaka juga sangat terkenal dengan kulinernya! Ya, sudah bisa ditebak, tujuan utama gw ke sana cuma buat MAKAN. Nyam nyam! #edisirakus

Hoe Kee Chicken Rice Ball

Setelah 2,5 jam perjalanan, tibalah gw di Jonker Street Melaka. Jam menunjukkan pukul 9.25 pagi. Sesuai rencana, gw mau sarapan di Hoe Kee Chicken Rice Ball yang sangat terkenal. Menurut temen gw, kalo lagi rame, antriannya bisa lebih dari 20 meter. Awalnya gw ga percaya, namun setelah melihat sendiri foto panjangnya antrian yang terpampang di dinding restoran, gw percaya. Apalagi, pas gw dateng ke situ, restorannya belum buka aja, udah ditungguin beberapa orang.

Hainam Chicken Rice Ball
Hainam Chicken Rice Ball

Setelah puas menikmati hainam chicken rice ball, gw jalan kaki ke bangunan peninggalan sejarah dan museum-museum yang jumlahnya tidak terhitung dengan jari. Menariknya, museum-museum tersebut terpusat di satu area saja, di daerah sekitar Jonker Street. Bisa dibilang, hampir bersebelah-sebelahan. Kalopun tidak bersebelahan, pasti berseberangan.

The Stadthuys – Museum of Literature – A’Famosa Fort – St. Paul’s Hill

Dimulai dari The Stadthuys atau Red Square, yang cukup ngejreng dan gampang dicari karena bagunannya bernuansa merah. Kemudian gw menuju Museum of Literature, Porta de Santiago (A’Famosa Fort), St. Paul’s Hill, Menara Taming Sari, Flora de la Mar Maritime MuseumCheng Ho Cultural Museum, Upside Down House, dan museum lainnya yang gw ga begitu inget. Sebagian museum gratis, namun ada pula yang harus bayar. Harga tiket masuknya rata-rata berkisar RM 5 (sekitar 17 ribu rupiah) – RM 15 (sekitar 50 ribu rupiah)

Di dalam Mamee Jonker House
Kincir Angin. Pasti peninggalan Belanda! #sotoy
Queen Victoria’s Fountain
Mata Uang Jaman Kesultanan Melaka
Foto salah satu objek di salah satu museum
Foto salah satu objek di salah satu museum
Foto salah satu objek di salah satu museum
St. Paul’s Hill
Maritime Museum

Sebagai orang yang ga menyukai sejarah, gw ngerasa objek wisata di Melaka ini agak membosankan. Dari sekian banyak objek wisata, cuma 2 yang gw suka, itupun ga ada hubungannya dengan sejarah. Kedua objek wisata itu adalah Menara Taming Sari dan Upside Down House.

Menara Taming Sari

Mungkin beberapa sudah tahu kalo gw pencinta ketinggian dan selalu pengen naek menara-menara yang tinggi. Makanya, ga heran kalo gw suka Menara Taming Sari. Walaupun ketinggiannya hanya 80 meter, menara ini cukup worth buat dikunjungi. Hanya dengan modal RM 20 (sekitar 70 ribu rupiah), pengunjung bisa menikmati pemandangan kota Melaka 360 derajat selama 17 menit, dari atas menara yang berputar. Masing-masing pengunjung bahkan mempunyai akses teropong sendiri. Harga yang terbilang cukup murah jika dibandingkan menara-menara lainnya.

Tersedia teropong gratis di dalam Menara Taming Sari
Pemandangan dari atas menara
Pemandangan dari atas menara

Buat yang mampir ke Menara Taming Sari, jangan lupa cobain Jelly Delight, yang dijual di dekat pintu masuk. Jelly Delight ini sebenernya kelapa Thailand yang airnya dibuat jadi jelly. Rasanya enak dan menyegarkan!

Jelly Delight (jelly dari air kelapa)

Upside Down House

Dan yang paling keren di Melaka yaitu Upside Down House atau Rumah Terbalik. Letaknya memang sedikit terpencil dari pusat-pusat museum. Namun, tetap bisa diakses dengan berjalan kaki 5 menit dari Menara Taming Sari. Kehadiran Upside Down House di tengah-tengah museum sebenernya cukup menghibur gw. Sayangnya, berhubung gw pake dress, foto-fotonya jadi keliatan kurang real. Untungnya, dress gw anti gravitasi! Hihihihi…

 

 

Buat yang ga kuat jalan, bisa naek becak khas Melaka yang agak-agak norak dan berisik nyetel lagu-lagu China tahun 70an keras-keras. Tarifnya RM 40 (sekitar 135 ribu rupiah) untuk 1 jam. Kaget melihat tarifnya, gw memutuskan untuk jalan kaki aja. Itung-itung olahraga biar lemak di badan gw ilang semua. Terima kasih banyak untuk sang Matahari yang udah berbaik hati memberikan sauna gratis yang super intens saat gw treadmill berjalan-jalan.

Becak khas Melaka

Durian Cendol

Setelah capek jalan-jalan, gw memutuskan untuk duduk sejenak sambil menikmati Durian Cendol yang juga sangat terkenal di Melaka. Paling enak dan paling ramai di San Shu Gong (Jonker Street), sebelahnya Hoe Kee Hainam Chicken Rice Ball tempat gw sarapan tadi. Harganya RM 5.90 (sekitar 18 ribu rupiah), namun rasa duriannya bener-bener mantap! Para pencinta durian mesti, kudu, wajib nyobain ini. Durian cendol ini gw nominasikan jadi minuman favorit gw di kota Melaka!!

Durian Cendol
Walau keliatannya kurang menarik, tapi rasa Durian Cendol ini super mantap!
Durian Cendol

San Shu Gong

Selain terkenal dengan Durian Cendolnya, San Shu Gong juga terkenal sebagai pusat makanan untuk oleh-oleh khas Melaka. Asiknya, banyak sampel makanan yang bisa dicicipin. Berikut snack favorit gw, yang temen gw juga selalu bawa setiap kali dia liburan ke Melaka.

Gw ga bisa menjelaskan ini apa, tapi rasanya enak!
Biscuit Tambun

Capitol Satay Celup

Sebagai early dinner, gw pun menuju Capitol Satay Celup. Menurut data-data yang gw dapet di InternetCapitol Satay Celup baru buka jam 5 sore. Namun kenyataannya, Capitol Satay Celup udah buka dari jam 4 sore. Ahhh, pantesan aja antriannya udah panjang.

Satay Celup
Satay Celup
Pilihan satay untuk dicelup (self service)
Yah, walaupun ngantrinya lebih lama daripada makannya, tapi gw tetap ga nyesel. Wajar lah kalo ngantri, karena memang rasa bumbu kacangnya enak.
Gw pernah mendengar isu-isu bahwa restoran satay celup itu bumbu kacangnya kotor karena bumbu bekas pelanggan sebelumnya tidak dibuang dan digunakan lagi untuk pelanggan selanjutnya. Gw kurang tau bagaimana situasi restoran satay celup lainnya, namun pas gw ke Capitol Satay Celup, setiap pelanggan selalu mendapat bumbu kosong yang baru di dalam baskom yang bersih. Bahkan mereka menambahkan beberapa sendok besar kacang dan bumbu yang lain (gw kurang tahu itu bumbu apa), di depan mata gw. Jadi gw yakin, restoran ini ga pake bumbu kacang bekas.

Rencananya, setelah makan malem, gw mau jalan-jalan di Jonker Street lagi ngemil-ngemil. Gw inget, waktu gw ke sana beberapa tahun lalu, ada sosis babi, sate kentang, es krim goreng, dan banyak lagi snack lain yang enak. Namun rencana terpaksa dibatalkan, karena gw udah kekenyangan dan harus segera pulang sebelum terjebak macet arus balik.

Sampai jumpa lagi, Durian Cendol!

Share this!

8 thoughts on “Jalan-Jalan Terus: Wisata Kuliner di Kota Melaka

  1. ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬
    Hiks.. Aku malam-malam lagi bacanya, mana belum makan, jadi lapar banget.
    ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬

  2. waduh saya belum sarapan. eh iya kalau dlihat saya malah suka ngelihat g rumah terbalik daripada tempat wista sejarahnya

    mungkin kurang dimanfaatkan itu kali ya. padahal cukup bagus apalagi yg ada patung-patung replikanya di saana

  3. Wah, udah pernah jalan-jalan ke Melaka juga, kah?

    Kita sama-sama bukan pencinta sejarah berarti *High Five!*. Dan menurut gw, mau dibikin bagus kaya gimana pun, kalo bukan pencinta sejarah, tetep aja ngerasanya biasa-biasa aja. Hihihihi =D

Leave a Reply

Your email address will not be published.