Jalan-Jalan Terus: Kelip-Kelip Kampung Kuantan

If you catch a firefly and keep it in a jar,
You may find that you have lost a tiny star.

 

‘Kelip-Kelip Kampung Kuantan’ merupakan Taman Kunang-Kunang (Firefly Park) yang terletak di Kuala Selangor, 60 km dari Kuala Lumpur. Walaupun letaknya sedikit terpencil, dan jauh dari pusat kota, Kelip-Kelip Kampung Kuantan sepertinya mempunyai daya tarik tersendiri. Buktinya, pas gw tiba di sana, gw melihat ada 2 bus rombongan turis asal Korea berkunjung ke sini.

Sekedar informasi, firefly park baru dibuka pukul 7.30 malam dan tutup pada pukul 10.30 malam. Informasi lebih jelas bisa dilihat di SINI.

Firefly Park ini disponsori sepenuhnya oleh TNB (Tenaga Nasional Berhad), yang kalo di Indonesia itu kaya PLN. Mereka bilang, ini salah satu tempat di mana mereka tidak mau menyediakan lampu, walaupun sebenarnya mereka mampu. (Ya iyalah, kalo dikasih lampu terang benderang, kunang-kunangnya mati, donk?)

Untuk melihat kunang-kunang, kita diharuskan menyewa sampan kecil yang berkapasitas 4 orang. Pas gw ke sini, menyewa 1 sampan kecil harganya RM 53 (sekitar 185 ribu rupiah) per sampan, harga sudah termasuk 4 jaket pelampung.

Buat yang cuma datang sendirian atau berdua dan mau share sampan dengan yang lain, gw saranin nunggu di dekat counter tempat membeli tiket. Serius deh, harga satu sampan RM 53 terlalu mahal kalo cuma untuk 1-2 orang.

Begitu naik sampan, kita dibawa menuju pohon-pohon terdekat yang berkelap-kelip karena banyak kunang-kunang. Mirip seperti pohon natal yang berkelap kelip di malam yang gelap. Menurut data, ada sekitar 1.300 kunang-kunang di sana. Kalo dapet penjaga sampan yang baik, kita diperbolehkan menyentuh kunang-kunang dengan lemah lembut. Sayangnya, gw dapet penjaga sampan yang udah tua, punya banyak aturan, dan rewel setengah mati. Jadi, gw cuma boleh duduk manis di sampan dengan tangan dilipat seperti anak TK baru masuk sekolah. #lebay.

Saat berada di sana, kita tidak diperbolehkan menggunakan flash atau senter. Cahaya dari flash atau senter akan mengganggu kunang-kunang. Berhubung kamera gw juga tidak canggih dan situasi di sana sangat gelap, gw ga bisa dapet foto apa-apa selain foto hitam pekat. Setelah beberapa kali gagal mengambil foto dan video, gw pun menyerah. Biarlah kenangan ini cukup gw abadikan di otak gw aja.

Bagi yang mau mengunjungi Taman Kunang-Kunang ini, disarankan datang pada bulan Desember atau setelah hujan. Kata si penjaga sampan tua yang punya banyak aturan dan rewel itu, kunang-kunangnya lebih banyak aktif pada waktu-waktu tersebut, sehingga kelap-kelipnya pun lebih banyak.
Kunang-Kunang (frfly.com)

Berikut beberapa fakta menarik tentang kunang-kunang:

  • Terdapat lebih dari 2.000 spesies kunang-kunang. Namun, tidak semuanya dapat menghasilkan cahaya.
  • Selain sebagai tanda bahaya, kunang-kunang jantan juga menggunakan cahayanya untuk menarik perhatian kunang-kunang betina.
  • Warna cahaya dari kunang-kunang berbeda-beda, ada kuning, hijau, atau oranye.
  • Larva kunang-kunang juga bisa menghasilkan cahaya. Sebagian dari mereka tinggal di dalam air menggunakan cahaya ini sebagai bentuk pertahanan diri.
  • Larva kunang-kunang memakan siput-siput kecil. Sedangkan kunang-kunang dewasa lebih menyukai sari-sari bunga. Namun, ada beberapa spesies unang-kunang dewasa yang juga karnivora dan memakan serangga lain.
  • Kunang-kunang dikenal sebagai spesies ‘bioluminescent‘, artinya mereka bisa menghasilkan cahaya sendiri.
  • Cahaya yang dihasilkan kunang-kunang merupakan cahaya yang paling efisien di dunia. Hampir 100% energi yang dilepaskan adalah cahaya. Bola lampu penemuan Thomas Alva Edison, hanya mampu menghasilkan cahaya sekitar 10% dari seluruh energi listrik yang dialirkan. Sedangkan, hampir 90% sisanya berubah menjadi panas. Inilah yang menyebabkan cahaya lampu listrik panas.
  • Cahaya kunang-kunang terbentuk dari oksigen, kalsium, luciferin, dan adenosin trifosfat (ATP). Zat-zat tersebut, dengan bantuan enzim luciferase bereaksi membentuk sejumlah zat kimia baru dengan melepaskan hampir 100% energi dalam bentuk cahaya.
  • Luciferase merupakan zat kimia yang penting. Biasa digunakan di dalam industri makanan, forensik, dan digunakan untuk mendeteksi tingkat ATP dalam sel.
  • Saat luciferase pertama kali ditemukan, satu-satunya cara mendapatkannya adalah langsung dari kunang-kunang. Saat ini, sudah diciptakan luciferase sintetik, namun beberapa perusahaan masih mengambil langsung dari kunang-kunang, sehingga menyebabkan populasi kunang-kunang yang terus menurun.
  • Faktor lainnya yang menyebabkan populasi kunang-kunang menurun adalah polusi cahaya dan rusaknya habitat kunang-kunang. Ketika habitat kunang-kunang rusak, mereka akan mati karena mereka tidak bermigrasi ke tempat lainnya.
If you let it go then, back into the night,
You may see it once again, star bright.
 
(If You Catch a Firefly, Lilian Moore)
Share this!

3
Leave a Reply

3 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of

thank you..

Kalo aku sih waktu itu nebeng temen naik mobilnya. Hihi…

Tapi pas disana keliatan banyak bus pariwisata sih, kurang tahu apa ada yang ke KL atau ga.

mba, nanya donk.. dari firefly ini balik lagi ke kuala lumpurnya naik apa ? makasih..