Miskonsepsi Tentang Alergi

Mungkin sebagian dari pembaca udah tau kalo gw menderita asma. Walaupun asma dan alergi merupakan 2 kondisi yang berbeda, namun ternyata mereka hidup berdampingan dengan sangat rukun. Diperkirakan 60-80% penderita asma, juga memiliki alergi tertentu. Sayangnya, gw termasuk dalam 60-80% nya itu :'(

Dalam postingan kali ini, gw akan membahas miskonsepsi tentang alergi. Semoga bermanfaat!

Alergi

Alergi merupakan bentuk reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap sesuatu yang dianggap berbahaya walaupun sebenarnya tidak. Ini bisa berupa substansi yang masuk atau bersentuhan dengan tubuh (Alodokter, 2015).

Miskonsepsi 1: Tes Darah Adalah Cara Paling Efektif Untuk Mengetahui Alergi Makanan

Justru menurut penelitian, 50-60% tes darah memberikan hasil yang tidak akurat! Angka yang cukup mengejutkan.
Cara terbaik untuk mengetahui makanan pencetus alergi adalah mencobanya satu-satu. Dimulai dari dosis kecil kemudian ditambah sedikit demi sedikit. Jika tidak terjadi reaksi apa-apa setelah mengkonsumsi makanan tersebut, itu artinya Anda tidak alergi terhadap makanan tersebut.
Miskonsepsi 2: Alergi Makanan Tidaklah Umum
Alergi makanan bukanlah hal yang aneh, bahkan, sekarang bisa dibilang hal yang umum. Keponakan gw sendiri, yang umurnya belum genap 2 tahun, alergi terhadap telur dan makanan laut. Setiap kali makan telur atau seafood, pasti bakalan muntah-muntah.
Di Amerika, 1 dari 12 batita mengidap alergi makanan, serta sekitar 150 batita meninggal dunia setiap tahun karenanya. Di seluruh dunia, kasus alergi makanan pada anak meningkat sampai 2 kali lipat selama 10 tahun belakangan ini. “Meningkatnya kasus alergi terhadap makanan adalah bagian dari melonjaknya kasus alergi secara umum di seluruh dunia,” seperti yang dikutip dari buku ‘Understanding and Managing Your Child’s Food Allergies‘ karangan Scott Sicherer, M.D.
Sembilan puluh persen dari kasus alergi makanan, disebabkan oleh makanan berikut: susu, telur, kedelai, kacang tanah, kacang pohon (almond, mete, pistasi), gandum, ikan, dan makanan laut.
Makanan Pemicu Alergi (Our Better Health, 2015)
Miskonsepsi 3: Anak Bayi Di Bawah 1 Tahun Tidak Boleh Diberi Makanan Yang Memicu Alergi
Penelitian terbaru yang dilakukan oleh American Academy of Asthma, Allergy and Immunology (AAAAI) tahun 2013 membuktikan bahwa anak yang diberi makan makanan yang biasa menjadi pemicu alergi, seperti yang disebutkan sebelumnya, justru beresiko lebih rendah mengalami alergi makanan atau alergi lainnya.

Di saat bayi berumur 6 bulan, pencernaannya sudah siap menerima makanan selain ASI. Namun sebaiknya, orang tua berkonsultasi dahulu sebelum memberikan makanan tersebut, apalagi jika sebelumnya ditemukan indikasi alergi baik terhadap bayi ataupun kakak sang bayi.

Miskonsepsi 4: Makan Sedikit Aja Tentu Tidak Apa-Apa
“Oh, kamu alergi ikan? Ah, ga apa-apa, cobain dikiiiittt aja!”
“Gimana tubuh bisa kebal sama telur kalo ga pernah coba makan lagi?”

Pemikiran ini sesungguhnya salah. Bagi orang yang sangat sensitif dan memiliki alergi pada makanan tertentu, walaupun cuma satu gigitan, bisa berakibat fatal, apalagi kalo tidak segera diobati.

Miskonsepsi 5: Reaksi Alergi Disebabkan Oleh Alergen

Reaksi alergi (CYH, 2013)

Eiits, kalo kulit menjadi merah dan gatal, bersin-bersin tidak berhenti, atau perut mual, jangan menyalahkan cuaca yang dingin, atau selai kacang yang baru saja kita makan. Mereka sebenernya tidak menyerang, tidak berbahaya, dan tidak bersalah. Karena yang menyebabkan semua itu sesungguhnya antibodi tubuh kita sendiri.

Entah harus bangga atau ga, konon katanya penderita alergi itu mempunyai sistem kekebalan tubuh yang overprotektif. Mereka seringkali mengira bahwa telur, selai kacang, cuaca yang dingin, atau penyebab alergen lainnya adalah zat yang berbahaya untuk tubuh. Maka dari itu, sistem kekebalan tubuh menggunakan antibodi untuk ‘menyerang’ dan mengakibatkan reaksi alergi.

Miskonsepsi 6: Alergi Bisa Disembuhkan
Sayangnya, walaupun dunia kedokteran dan teknologi sudah canggih, kita masih belum menemukan obat untuk menyembuhkan alergi. Obat antihistamin, yang sering dikonsumsi penderita alergi, bukan untuk menyembuhkan alergi, melainkan untuk mengurangi reaksi alergi.

Miskonsepsi 7: Alergi Tidak Berbahaya

Reaksi alergi bisa membahayakan (CYH, 2013)

Walaupun jarang terjadi, alergi memang bisa berbahaya. Reaksi alergi beraneka ragam. Ada yang hanya bersin-bersin atau gatal-gatal. Namun ada juga yang wajahnya membengkak, muntah-muntah atau sesak napas; dan dapat menyebabkan kematian apabila tidak segera diberi pertolongan.

Miskonsepsi 8: Alergi Cuma Sugesti Pikiran
Memang sugesti pikiran juga bisa menimbulkan alergi. Seseorang yang alergi bunga mawar, bisa tetap mengalami reaksi alergi walau diberi bunga mawar plastik.

Akan tetapi, seperti yang dijelaskan di poin sebelumnya, alergi bisa sangat berbahaya dan mematikan. Beberapa kasus diberitakan seseorang meninggal setelah mengkonsumsi kacang. Wajahnya bengkak dan sesak napas. Padahal dia tidak tahu kalo dia punya alergi terhadap kacang.

Kesimpulannya, alergi bukan hanya karena sugesti pikiran.

Share this!

5 thoughts on “Miskonsepsi Tentang Alergi

  1. Gue juga ada asma, tapi sekarang udah kurang. Terus alergi debu juga. Jadi kalau udah kena debu gitu suka bersin ga berenti-berenti. Mungkin itu alasan kenapa gue sampe sekarang masih jomblo.

    Cewek-cewek pada ilfil sama cowok yang bersin nya 6 kali berturut-turut.

  2. Semakin dewasa biasanya asma semakin jarang kambuh karena pertahanan tubuh makin kuat.

    Ah memang itu penyebab utama lo jomblo kayanya. Lain kali kalo mau nge-date, jangan lupa bersih-bersih dulu atau pake tabung oksigen, ya =P =P =P

Leave a Reply

Your email address will not be published.