[BTS] Jalan-Jalan Terus: Rainbow Village Taiwan

Yang mau full itinerary Taiwan 8 hari 7 malam bisa dilihat di SINI.

Pertama kali menginjakkan kaki di ‘Rainbow Village (彩虹眷村)‘ Taiwan, gw bengong. Gw pikir, tempat ini bakalan gedeeee. Secara di namanya ada kata village alias desa. Namun yang gw liat cuma beberapa rumah kecil doank, mungkin lebih cocok kalo disebut ‘Rainbow Park‘.

Ternyata gw salah. Ada kisah di baliknya, dan jawaban kenapa ada kata village pada nama tempat ini.

Sebagai anggota klub norak, gw suka tempat ini karena warna-warni dan norak. Kalo kata orang-orang kekinian, tempat ini instagramable banget. Pake hashtag #nofilter pun, tetap keliatan cantik.

Begitu dateng, gw penasaran akan asal muasal tempat ini. Kenapa tempat ini bisa begitu berwarna-warni dan terkenal? Siapa yang kurang kerjaan bikin gambar di tembok-tembok dan di lantai-lantai ini?

Dan di tempat itu juga, gw menemukan jawabannya. TA DA!

Inilah kenapa Rainbow Village begitu terkenal
Inilah kisah di balik Rainbow Village!

Gimana, udah ngerti kan?

APA??

Belom?

Uuh. Tenang, tenang, gw yang *uhuk* expert Bahasa Mandarin *uhuk* akan menjelaskan semuanya.


Huang Yongfu atau yang dikenal dengan Rainbow Grandpa, yang menggambar semuanya. Dia lahir pada tahun 1924, udah tua banget. Saat gw ketemu dia, usianya sudah 92 tahun (menurut penanggalan Masehi), tapi masih berjiwa muda, pake pose-pose cute pas gw ajakin foto.

With Rainbow Grandpa

Dulunya, terdapat 1200 rumah di tempat yang sekarang dinamakan Rainbow Village. Rumah-rumah tersebut dikhususkan untuk para veteran perang beserta keluarganya. Huang-lah salah satunya. Yap, rainbow grandpa ini dulunya prajurit perang.

Huang, asal Hong Kong, bergabung dengan pasukan Kuomintang (KMT) untuk melawan pasukan komunis China saat perang saudara pada tahun 1946. Saat KMT kalah pada tahun 1949, para pasukan mengikuti pemimpin mereka, Chiang Kai-Shek, yang melarikan diri ke Taiwan.

Para pasukan tersebut diberi tempat tinggal sementara. Chiang Kai-Shek berniat kembali merebut wilayah China. Namun karena semakin hari pertahanan China semakin kuat, niat itu sampai saat ini tidak terwujud. Tempat tinggal yang rencananya hanya sementara pun berubah menjadi rumah permanen.

Beberapa dekade berlalu, desa-desa veteran terlihat usang. Sebagian sudah dirobohkan karena para penghuninya menginginkan perumahan yang lebih baik. Saat itu, Huang menerima surat dari pemerintah Taiwan yang isinya kurang lebih memberitahunkan bahwa desanya akan dirobohkan untuk dibangun sesuatu yang baru. Warga ditawari kompensasi NT$ 2 juta (870 juta rupiah) atau pemukiman baru.

Huang, yang sudah tinggal di sana selama 37 tahun, menolak pindah. Dia bersikeras bertahan di sana walaupun para tetangganya sudah pergi. Saat itu, hanya tersisa dia sendirian dan 11 buah rumah kosong. Bosan dan kesepian, Huang memutuskan untuk melukis.

Lukisan pertamanya adalah lukisan seekor burung di salah satu tembok dalam rumahnya. Setelah semua tembok rumahnya penuh dengan lukisan, dia pun mulai melukis tembok-tembok rumah tetangganya yang sudah kosong.

Ketika murid-murid dari salah satu universitas lokal melihat hasil karya Huang, mereka melakukan kampanye agar desa tersebut tidak dirobohkan. Untungnya, pemerintah setuju.

Saat ini, Rainbow Village merupakan salah satu destinasi terkenal di Taiwan dengan lebih dari 1 juta pengunjung setiap tahunnya.

Rainbow Grandpa tidak pernah merasa kesepian lagi.

Yang mau full itinerary Taiwan 8 hari 7 malam bisa dilihat di SINI.

Share this!

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of