Si Mata Robot

Cerita ini merupakan kejadian nyata yang dialami oleh Asisten Rumah Tangga gw yang dulu. Untuk melindungi identitasnya, kita sebut saja ‘si mbak’ (bukan nama sebenarnya). Iya, perempuan pastinya. Kalo laki-laki pasti jadi ‘si mas’.

Si mbak tinggal di rumah gw, hanya pulang ke rumahnya sendiri sekali seminggu. Saat itu, anaknya yang berusia 3-5 tahun, yang selanjutnya akan gw sebut ‘si adek’ (bukan nama sebenarnya juga), ikut menginap. Mungkin kangen mamanya atau papanya sedang sibuk.

Menjelang maghrib, si mbak, dengan mata berkaca-kaca, kebingungan mencari-cari si adek. Dia udah nanyain semua orang di rumah, namun hasilnya nihil. Si adek hilang.

Gw dan keluarga gw yang lain ikutan bingung. Setiap ruangan diperiksa, berharap si adek ketiduran, keasikan main, atau terkurung tidak bisa membuka pintu. Tetap nihil.

Kemungkinan lainnya, si adek keluar rumah. Kemungkinan ini sebenarnya hampir tidak mungkin, mengingat si adek tidak bisa membuka dan mendorong pintu pagar yang berat. Tapi namanya juga usaha, kalau dicari di dalam rumah ga ada, yah terpaksa dicari di luar rumah juga. Maka itu si mbak keluar rumah, mencari-cari si adek. Setelah keliling-keliling dan nanya kiri-kanan, si adek tetap ga ketemu. Si mbak makin sedih.

 

Tiba-tiba, di kebun belakang, tempat nyuci baju dan nyimpen barang-barang, si adek nongol. Entah dari mana munculnya. Padahal sebelumnya, kita sudah mengecek kebun belakang dan tidak menemukannya.

“Adek dari mana?”

“Dari sana,” nunjuk ke salah satu area berisi tumpukan barang. Kalaupun dia benar ada di sana, seharusnya pasti ketemu pas kita cariin.

“Ngapain di sana?”

“Maen, Ma.”

“Maen apa? Sama siapa?”

“Maen biasa aja. Sama mata robot.”

“Mata robot siapa?”

“Temen adek.”

“Yang mana orangnya? Mama kenal ga?”

“Yang tadi itu, Ma. Yang matanya kaya robot. Terus tangannya (atau kakinya, gw agak lupa) cuma satu.”

Mamanya agak kaget, tapi ga berani ngomong macem-macem. “Terus kamu pulangnya dianterin si mata robot lagi?”

“Iya,” si adek terlihat santai.

“Lain kali, kalo diajak main lagi, Adek bilang kalo Adek harus tanya mama dulu, ya.”

Si adek mengangguk, lalu cuci kaki dan masuk ke dalam rumah.

 

Yang gw tangkep dari penjelasan si adek, si mata robot itu matanya kaya bola mata mainan gitu. Berbentuk kaya bola, mencuat ke luar, dan berukuran lebih besar dibanding mata manusia normal. Gw ga begitu tahu juga gambaran pastinya. Anaknya waktu itu masih kecil, agak pendiam, dan kosakatanya masih terbatas.

Atau bisa juga lucu seperti minion begini:

Minion
Minion

Sekarang, si adek sekarang sudah besar, mungkin sudah SMA. Kata mamanya, sampai sekarang pun, dia masih bisa melihat makhluk halus dan tidak pernah merasa takut.

Share this!

Leave a Reply

Your email address will not be published.