[BTS] Jalan-Jalan Terus: Undian Pada Struk Belanja Taiwan

Gw dan keluarga sedang asik makan siang di salah satu food court di Taipei. Makanan di Taiwan sebenernya rasanya lumayan, tapi kurang cocok di lidah gw. Udah gitu, tipikal Asia banget, mereka suka banget makan nasi, porsi nasinya kaya kuli tapi porsi lauknya seiprit.

Gw, baru makan seperempat porsi nasi, lauk gw udah abis. Alhasil, diomelin sama adek gw. Bukan, bukan diomelin gara-gara lauk gw abis, tapi gara-gara gw masih laper dan lauk dia gw comotin. Hihihi. Menurut adek gw (dan mungkin kebanyakan orang lainnya), cara makan yang benar itu, dalam satu sendok, 70-80% nya nasi, dan 20-30% nya lauk. Sedangkan gw? Kebalikannya.

Selesai makan, gw nengok kanan-kiri. Oh, ternyata tidak perlu mengembalikan piring dan membersihkan meja sendiri. Gw pun cuma merapikan meja, menumpuk piring-piring kotor menjadi satu biar mudah diangkat, dan beranjak pergi. Baru berjalan beberapa langkah, udah dipanggil sama yang bersih-bersih (YBB).

YBB: Oooii, struk-nya ketinggalan!

Mama gw bingung sejenak. Gw dan yang lain, yang ga jago bahasa Mandarin, lebih bingung lagi itu YBB ngomong apa.

YBB: Struknya ketinggalan (sambil melambai-lambaikan struk belanja makanan tadi).

Mama: Oh, itu kita ga perlu.

YBB: Oh ga mau? BUAT GW, YA? (sambil nyengir lebar).

Kita malah makin bingung. Sebelum-sebelumnya, ga pernah ada orang sebegitu pengennya ngumpulin struk belanja orang.

Mama: Iya, iya.

YBB: Makasih.

Mama: (Jadi penasaran) Emang buat apaan struk-nya?

YBB: Di sini struk belanja itu ada undiannya. Tiap 2 bulan sekali diundi (sambil nunjukkin barcode di struk belanja kita yang tadi).

Mama: Ooh gitu… Iya, semoga menang, ya.

***

Berikut contoh struk belanja di Taiwan. Berhubung gw ga sempat foto, gw nyomot dari web orang:

Struk belanja di Taiwan (ushigyu.net, 2017)
Struk belanja di Taiwan (ushigyu.net, 2017)

Ini adalah satu upaya unik dan cerdas yang dicetuskan pemerintah Taiwan pada tahun 1951 untuk mengurangi penggelapan pajak.

Lho, apa hubungannya?

Jadi gini, setiap merchant idealnya punya Point of Sales (POS) sistem yang terintegrasi dengan sistem pemerintah. Ketika ada transaksi, merchant akan mengirimkan detail transaksinya ke sistem pemerintah. Data yang dikirim akan dicatat sistem pemerintah, dan sebagai gantinya, sistem pemerintah akan mengirimkan 8 digit nomer yang valid untuk undian. Nomer undian inilah yang dicetak di struk belanja. Kalo udah begini, si merchant ga bisa lagi bohong soal pajaknya, karena data-data transaksinya tersimpan di sistem pemerintah.

Nomer-nomer undian tersebut diundi pada tanggal 25, setiap 2 bulan sekali, pada bulan yang ganjil: 25 Januari, 25 Maret, 25 Mei, dan seterusnya. Special prize-nya tidak tanggung-tanggung, NT$ 10 juta (atau setara dengan 4,4 milyar rupiah), minus pajak 20%!! Memang sih, kemungkinan dapet special prize sangat sangat sangat kecil, harus match 8 digit angka. Tapi peluang sangat kecil bukan berarti tidak mungkin. Pada bulan Juli 2017, ada 4 orang memenangkan special prize NT$ 10 juta, salah satunya hanya membeli sebotol air mineral di FamilyMart!!

Selain special prize, ada juga grand prize dan hadiah-hadiah kecil lain yang peluangnya lebih besar, seperti yang tertera di gambar berikut:

Hasil undian dan hadiah undian periode Juli-Agustus 2017 (tealit.com, 2017)

Kabar baiknya, orang non-Taiwan pun boleh ikutan. Jadi kalo ada yang mau jalan-jalan dan belanja di Taiwan, silakan simpan struk nya. Siapa tahu kamu beruntung!

 

Memang, pedagang-pedagang kecil, khususnya yang berjualan di kaki lima, tentu saja tidak punya sistem untuk mendata transaksi mereka, apalagi untuk menghubungkannya dengan sistem pemerintah. Tapi itu tidak menjadi masalah karena penghasilan mereka pun umumnya tidak banyak. Target pemerintah Taiwan adalah pedagang-pedagang kelas menengah ke atas, yang pendapatan brutonya di atas NT$200.000 (88 juta rupiah) sebulan.

Sebagai pembeli pun, orang-orang Taiwan agak rewel. Mereka cenderung membeli barang di toko yang ada struk official-nya. Ibaratnya gini, misalnya ada 2 toko, Toko A dan Toko B yang letaknya sebelah-sebelahan. Di Toko A beli barang dapet struk undian. Di Toko B, beli barang yang sama dengan harga yang sama, tidak dapat undian. Kamu bakal pilih yang mana? Toko A yang jujur melaporkan pajaknya dan kamu berkesempatan menang undian, atau Toko B yang belum tentu jujur soal pajak dan kamu tidak punya kesempatan menang apa-apa? Naahhh, pasti Toko A, kan? Begitu juga masyarakat Taiwan.

Dampaknya sangat drastis lho. Pada tahun 1950, pemerintah Taiwan hanya mendapatkan NT$ 29 juta dari pajak penghasilan. Pada tahun 1951, setelah diberlakukan undian ini, pemerintah Taiwan berhasil mengumpukan NT$ 51 juta, 75% lebih banyak dari angka tahun lalu. Itu tahun 1971 lho, sekarang entah berapa yang mereka dapat dari pajak. Saking efektifnya, sistem ini berlaku hingga saat ini.

What do you think of this approach guys? Cocokkah kalo diterapkan di Indonesia?

Share this!

Leave a Reply

Your email address will not be published.