[BTS] Jalan-Jalan Terus: Ribetnya Buang Sampah di Jepang

Soal kebersihan, Jepang memang patut diacungi jempol. Jalan besar, jalan tikus, WC umum, tempat publik – semua bersih.

Anehnya, di negara bersih begitu, gw kesulitan mencari tempat sampah, lho! Beberapa kali gw ngemil sambil jalan. Pas cemilan udah abis, mau buang sampah, eehhh kok ga nemu tempat sampah, ya. Akhirnya harus gw simpen dulu di tas dan ujung-ujungnya, kalo pas ke toilet atau sampai rumah baru dibuang.

Kadang nemu tempat sampah besar di samping vending machine, tapi diameter lubangnya hampir sama dengan besarnya diameter kaleng minuman yang dijual. Alhasil sampah gw yang bulky ga muat. Kalo pun muat, seharusnya tidak dibuang di situ juga, karena itu khusus untuk kaleng recycle.

Temen gw yang tinggal di Jepang bilang:

Orang Jepang kalo kemana-mana biasanya sedia kantong plastik sendiri di tas nya. Jadi sampahnya mereka masukkin plastik dan disimpen di dalam tas dulu. Nanti kalo udah sampe rumah, baru dibuang di rumah.

 

Makanya biasanya kalo beli street food, begitu beli, langsung makan di tempat. Jangan jalan kemana-mana. Begitu selesai, sampahnya bisa dibalikin lagi ke yang jual.

Gw melongo.

***

Kebalikan dari tempat umum, tempat sampah di rumah justru banyak.

Kok gw bisa tau? Ya, soalnya pas gw jalan-jalan ke Jepang, gw nginep di rumah penduduk lokal via Airbnb. Makanya gw tau.

Dari 3 rumah berbeda yang gw tinggalin, ketiganya punya lebih dari 4 buah tempat sampah besar di dapurnya. Padahal ruangan dapurnya cuma sekitar 3m x 3m, atau cuma model lorong 4m x 2m. Rumah terakhir, yang dapurnya agak besar, malah punya 6 tempat sampah besar.

Seribet apa sih, buang sampahnya?

Ternyata di Jepang, buang sampah itu ga bisa sembarangan.

Sampah harus dikelompokkan menjadi kategori-kategori tertentu. Pengelompokannya berbeda-beda, tergantung daerah. Ada yang simpel hanya dikelompokkan menjadi 2-4 kategori (biasanya apartments, karena ada staff yang akan mengelompokkan ke dalam kategori yang lebih detail). Ada juga yang ribet sampe jadi 14 kategori (biasanya landed houses).

Kategori-kategorinya bervariasi: newspaper, cardboard, milk cartons, books and magazines, other “mixed” paper, rags, cans, bottles, PET bottles, other plastic, combustibles (bisa dibakar), dan incombustibles (tidak bisa dibakar).

Udah gitu, buang sampahnya juga ada jadwalnya (informasi diambil dari SINI):

  • Kategori sampah yang mudah terbakar – seminggu 2x.
  • Kategori sampah plastik – setiap hari Rabu.
  • Sampah yang tidak mudah terbakar, sampah botol yang jenis plastiknya PET (Polyethylene terephthalate), sampah yang beracun / berbahaya – sebulan 2x.

Frekuensi dan harinya berbeda tiap daerah, jadi harus tahu jadwal dan aturan daerah masing-masing. Kalo ga mau ribet, tinggalah di apartment. Yang tinggal di apartment, bisa buang sampah kapan aja, karena akan ada yang mengatur kapan kategori sampah tersebut harus dibuang.

Naahhh, selain ada jadwalnya, semua sampah harus ditata dan dibersihkan, sebelum dibuang. Ada tata cara menatanya, ga bisa sembarangan. Saking pentingnya, sedari kecil, anak-anak sudah diajarkan tentang konsep recycle ini di sekolah.

Terkadang, satu benda saja harus dipisah-pisahkan menjadi beberapa kategori. Seperti ini contohnya (semua gambar di bawah – kecuali sumber tercantum – diambil dari SINI):

Aturan membuang sampah combustible (bisa dibakar)
Aturan membuang sampah combustible (bisa dibakar)
Aturan membuang sampah plastik
Aturan membuang sampah plastik (botol dan bungkus makanan plastik)
Aturan membuang sampah plastik - CD
Aturan membuang sampah plastik (CD)
Aturan membuang sampah plastik - Mainan
Aturan membuang sampah plastik (mainan) – harus dibongkar dulu! 😮
Aturan membuang botol PET
Aturan membuang botol PET (Polyethylene terephthalate) – botol PET harus dibilas dulu. Botolnya, labelnya, dan tutupnya bisa masuk ke kategori sampah yang berbeda.
Aturan membuang sampah kertas (SoraNews24, 2014)
Aturan membuang sampah kertas (SoraNews24, 2014) – Sampah kertas harus ditumpuk rapi dan diikat agar menghemat tempat. Untuk model box seperti gambar di atas, harus digunting, dicuci bersih, dan dikeringkan dulu.

 

Udah melongo? Kalo belum, gw lanjutin lagi nih.

Sampah yang dibuang pun, ga bisa dibungkus pake plastik sembarangan, harus pake plastik khusus. Plastik khusus ini bisa dibeli di supermarket terdekat, dan tergantung dari sampah kategori apa yang mau dibuang. Tiap daerah, plastiknya pun berbeda-beda.

Plastik sampah (Guidable, 2016)

Daannn… kalo membuang sampah yang bulky seperti seperti sofa, televisi, lemari, kamu harus membayar. Cukup dengan membeli stiker ini dan menempelkannya di objek yang mau kamu buang. Setelah itu, telepon dan beritahukan pada mereka apa yang mau kamu buang.

Tiket untuk membuang 'sampah' yang bulky (ENISHI, 2015)
Tiket untuk membuang ‘sampah’ yang bulky (ENISHI, 2015)

Terus, gimana kalo ‘standard’ di atas ga diikutin?

Kalo buang sampah atau pengkategoriannya ga bener, sampahnya bisa dibalikin ke depan rumah, ditinggalin gitu aja, atau didenda sama ‘garbage guardian.

Kalo udah gitu, tetangga-tetangga bakalan sebel karena orang tersebut dinilai tidak cinta sama planet bumi.

Eh, emang bisa tau ini sampah punya siapa? Bisa. Kan tiap sampah harus dikasih nama dan nomer rumahnya.

Iya, mereka segitu seriusnya soal sampah.

***

Pantes aja host Airbnb yang kita tinggalin bilang:

Sampahnya dikumpulin aja dan taro di dapur. Jangan dibuang sendiri kalo ga ngerti.

Mungkin host-nya takut kena denda. Waktu gw di sana, gw ga tau kalo buang sampah tuh ribet. Berhubung ga enakan dan takut ngerepotin, gw sempat turun ke ruang recycle buat buang sampah. Sampe sana gw melongo. Ruangannya kosong melompong. Ga ada sampah sama sekali. Udah gitu, ada kertas-kertas petunjuk di tembok, gambar-gambar cara me-recycle, tapi semua dalam bahasa Jepang. Kebingungan, sampahnya gw bawa masuk lagi ke rumah. Hehehehe…

***

Setelah baca ini, sekarang tahu kan, kenapa di tempat umum jarang ketemu tempat sampah? Selain untuk mengurangi aksi terorisme (mereka takut ada bom di tempat sampah), mereka juga ingin mendorong program recycle ini.

Yang gw heran, kok bisa negaranya bersih kalo tempat sampah jarang ada dan perjuangan membuang sampah aja seribet ini?

***

PS: Buat yang belum punya akun Airbnb, bisa join dengan referensi gw dengan meng-klik link INI dan register. Dengan link itu, kamu akan mendapat kredit SGD 45 yang bisa kamu gunakan untuk stay pertamamu! Lumayan, kan!

Share this!

2 thoughts on “[BTS] Jalan-Jalan Terus: Ribetnya Buang Sampah di Jepang

  1. Cara buang sampah seperti ini harusnya ditiru ya sama Indonesia dan disosialisasikan di sekolah2, well, one can only wish ya kaaan 😆

Leave a Reply

Your email address will not be published.