[BTS] Jalan-Jalan Terus: Kesasar di Stasiun Kereta Jepang

Subway / train di Jepang itu ga sesimpel di negara-negara lain yang pernah gw kunjungi. Liat petanya aja, udah ruwet, bikin malas.

Biar pembaca ikutan pusing, nih gw kasih liat map-nya:

Tokyo Subway Route Map
Tokyo Subway Route Map (Tokyo Metro Co, 2018)

Peta subway di atas itu cuma buat Tokyo doank lho, ya. Kota-kota lain beda lagi.

Beberapa kali gw dan Mr Hamburger harus bengong dulu di stasiun, ngeliatin peta raksasa di dinding dan mikir gw harus beli tiket yang harganya berapa yen, pake line yang mana, harus jalan ke arah mana, dan perlu tuker train atau enggak.

Serunya lagi, kadang harus ngafalin hurufnya dulu, terus nyari huruf yang sama di peta, karena mereka ga pake huruf a-b-c kaya kita. Kalo pun ada, huruf a-b-c nya keciiilll banget, sedangkan aksara Jepangnya segede gaban. Untungnya sih, orang-orang Jepang baik-baik, pas kita bengong, selalu ada yang bantuin.

Balik ke soal kereta, berdasarkan jumlah stasiun yang disinggahi (bukan cuma dilewatin lho ya), train di Jepang dibagi menjadi:

  • Local (普通) — berhenti di semua stasiun.
  • Semi-Express / Local Express (準急) — berhenti di hampir semua stasiun (tapi tidak sebanyak local train).
  • Rapid (快速) — berhenti di beberapa stasiun tapi tidak sebanyak semi-express train.
  • Express (急行) – berhenti di sedikit stasiun saja, tidak sebanyak rapid train.
  • Limited Express (特急) — stasiun pemberhentiannya paling sedikit.

…dan semua train tersebut berentinya di rel yang sama, hanya waktunya saja yang berbeda-beda.

***

Awal menginjakkan kaki di Tokyo, karena ga tau kalo jenis train-nya berbeda-beda, gw dan Mr Hamburger asal naek aja. Gw pikir, train-nya model di Singapura gitu, yang cuma 1 jenis dan berhenti di setiap stasiun.

Baca Juga: [BTS] Jalan-Jalan Terus: Ribetnya Buang Sampah di Jepang

Makanya begitu ada kereta berhenti, tanpa pikir panjang, kita langsung naik. Berbekal train map di tangan, setiap kereta berhenti, kita cocokin satu-satu, memastikan kalo kita on the right track.

  • Pemberhentian 1 – Benar.
  • Pemberhentian 2 – Benar.
  • Pemberhentian 3 – Salah.
  • Pemberhentian 4 – Benar (tapi menurut peta di tangan gw, stasiun ini seharusnya pemberhentian ke-3).
  • Pemberhentian 5 – Salah.
  • Pemberhentian 6 – Salah. Kita mulai bingung.
  • Pemberhentian 7 – Salah. Kita keluar.

Begitu keluar, kita mendapati diri kita berada di stasiun kecil antah berantah. Sepanjang mata memandang, ga ada satu pun tulisan yang berbahasa Inggris.

Di tengah-tengah, ada papan yang bertuliskan angka-angka dan aksara Jepang. Sepertinya sih jadwal train. Sayang karena waktu itu gw terlalu bingung, jadi ga sempat foto-foto.

Setelah gagal memahami tulisan-tulisan di papan, kita pun mendekati petugas yang kebetulan ada di sana dan bertanya.

Gw: Hai.

Petugas (P): Iya, ada apa?

Gw: Gw mau ke Asakusa (sambil nunjuk ‘Asakusa‘ di peta yang gw bawa).

 

Si petugas berjalan menuju papan yang tadi gw liat. Gw dan Mr Hamburger ngikutin dari belakang.

P: (Nunjuk angka ‘903’ di papan) Yang ini.

Gw: Maksudnya yang itu gimana? Itu nomer kereta atau apa?

P: No no no. It’s the time (sambil nunjuk-nunjuk jam).

Gw: Oh, keretanya dateng jam 9:03?

P: Iya.

Gw: Di rel yang sebelah sini?

P: Iya.

Gw: Baiklah, terima kasih.

 

Walaupun bingung, kita ga nanya-nanya lagi. Jam 9:03 itu cuma 3 menit lagi. So, next train kita naek.

Baru berapa detik, kereta datang. Jam 9:01. Tapi detiknya udah hampir 9:02 gitu. Kita bingung, yang dimaksud petugas kereta ini atau bukan? Katanya 9:03, tapi ini baru mendekati 9:02. Gw ngeliatin petugas yang lagi berjalan menjauh, berharap dia noleh dan ngasih kita kepastian. Sementara Mr Hamburger berjalan cepat mendekati petugasnya.

P: (Menoleh) No no. Not this one. You, 9:03.

Kita: (Liat jam. Jam menunjukkan 09:02) Ok, thank you.

 

Kita sedikit ga yakin. Masak iya keretanya sebegitu tepat waktunya? Emang keretanya ga boleh dateng 1 menit lebih cepat? Atau telat sedikit?

Masalahnya, papan kereta yang ada di stasiun itu bukan tipe papan digital yang bisa ganti-ganti waktunya. Tapi cuma model papan yang tulisannya udah fixed gitu. Yah, ngerti kan, maksudnya?

Di tengah kebingungan.. Ada kereta satu lagi datang. Gw liat jam, bener-bener jam 09:03, walau detiknya ga pas-pas banget. Si petugas kali ini udah ngeliatin kita, dan dari ujung sana, dia nunjuk-nunjuk kereta mengisyaratkan bahwa kereta ini adalah kereta yang benar.

***

Setelah beberapa kali naek kereta, gw baru sadar ternyata kereta yang pertama kali gw naekin itu kereta local (普通), alias kereta yang berhenti di semua stasiun. Sebenernya dibilang salah naek kereta juga enggak, karena toh pasti suatu saat, dia bakal berhenti di stasiun tujuan gw. Cuma waktunya lebih lama aja. Misalnya kalo kereta local 90 menit, kereta express cuma butuh waktu 30 menit. Lumayan banyak lah bedanya.

Lah terus kenapa di peta ga ada?!

Karena ga semua stasiun tertulis di peta, apalagi stasiun-stasiun kecil. Kalo ditulis semua, petanya bisa segede gaban dan terlalu ribet.

Baca Juga: Jalan-Jalan Terus: Itinerary Jepang 10 Hari 9 Malam (Tokyo, Kyoto, Nara, Kobe, Osaka)

Anyway, gw pernah baca satu berita yang sangat ‘unik’, yang mungkin cuma terjadi di Jepang. Silakan baca sendiri berita lengkapnya di sini:

Tokyo railway ‘deeply sorry’ after train leaves 20 seconds early

Empat jempol dah buat kereta Jepang yang sangat tepat waktu! 👍👍👍👍

Share this!

2
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
1 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
Po Stefanie AndriantaDemibara Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Demibara
Guest
Demibara

Itu peta Subway apa motherboard, hahahaha…. 😀 Eh, tapi gile bener, ya. Soal ketepatan waktunya itu? Tapi masuk akal sih, kalo nggak tepat waktu pastinya bakalan banyak terjadi tabrakan antar kereta, ya… Tapi akurasinya sampe nyaris ke level detik? Ampuun… Kira-kira, orang Indonesia bakalan stress nggak ya, kalo hidup di situ? Menurutmu, gimana? Apa malah orang Indonesia jadi happy, karena nggak ada macet, karena semuanya tepat waktu? Karena nggak perlu lagi saling memaki di lampu merah ketika jam sibuk? Tapi kayaknya ada kemungkinan yang lain, yaitu: Orang Jepang stress karena punya temen orang Indonesia yang hobinya pake “Jam Karet”, hahahaha…… Read more »