Jalan-Jalan Terus: Itinerary New Zealand North Island 8 Hari 7 Malam

Hari 1: Jumat, 19 April 2019

Auckland
Bermalam di Auckland (via Airbnb)

Auckland Airport

Sampai airport jam 13:55 siang, nungguin bagasi, beli SIM Card, dan ngambil mobil di tempat rental mobil. Proses minjem mobilnya cepet, ga pake antri. Ga sampe 15 menit, kita udah duduk manis di dalam mobil, siap untuk mengekslorasi kota Auckland.

Oh ya, untuk peminjaman mobil, SIM Indonesia harus diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh penerjemah tersumpah ya.

Baca Juga: Penerjemah Biasa VS. Penerjemah Tersumpah

Auckland Sky Tower

Setelah belanja groceries untuk sarapan dan cemilan di jalan, kita parkir mobil di Auckland downtown dan berjalan kaki mengeksplorasi kota Auckland. Berhubung kita anak soleh hari ini ‘Good Friday‘, parkir mobilnya gratis. Lumayan banget bisa hemat, rate normalnya NZD 2-3 per jam.

Salah satu tujuan utama kita di sini adalah makan malam dan menuju Auckland Sky Tower.

Pemandangan dari Auckland Sky Tower

Hari 2: Sabtu, 20 April 2019

Hobbiton – Putaruru Blue Spring – Hamilton Gardens
Bermalam di Hamilton (via Airbnb)

Hobbiton

Hayo ngacung, siapa yang ngikutin serial ‘The Lord of the Rings‘ dan ‘The Hobbit‘? *Gw ikutan ngacung*.

Tapi tenang saja, meski kamu ga pernah nonton dan bukan penggemar serial tersebut, kamu tetap bisa menikmati desa Hobbit atau Hobbiton, kok. Karena ini private property milik Russell Alexander, maka kamu harus kamu harus ikut tur yang disediakan. Biayanya NZD 84 per orang. Disarankan booking dulu beberapa hari sebelumnya, karena sering kehabisan.

Bukan cuma bisa melihat keindahannya saja, tapi tour guide akan menceritakan beberapa behind the scene dan fakta-fakta menarik yang terjadi selama proses shooting.

Putaruru Blue Spring

Sebelum era Internet, tidak banyak yang tahu tempat ini. Tapi sekarang, ribuan turis datang setiap tahunnya sampai-sampai pemerintah New Zealand mengeluarkan larangan untuk berenang untuk menjaga kualitas airnya.

Unuk menyaksikan kejernihan Putaruru Blue Spring, ada 2 rute perjalanan yang tersedia, rute panjang (3 jam return) dan rute pendek (30 menit return). Gw sendiri ambil rute yang pendek.

Hamilton Gardens

One of my favourite spots in New Zealand! Hamilton Gardens pernah dapet ‘Garden of the Yearaward di acara International Garden Tourism Awards di Perancis pada tahun 2014 lho.

Tempat ini luaasss, dan semuanya garden-nya bagus, unik, dan indah banget. Alokasikan waktu agak lama kalo mau eksplorasi semuanya. Gw muter-muter 2 jam ga cukup, akhirnya nambah beberapa menit lagi sampai gw menyerah pada hari yang gelap dan udara yang makin dingin.

Hari 3: Minggu, 21 April 2019

Hot air balloon – Marokopa Falls – Waitomo Glowworm Cave – Ruakuri Cave
Bermalam di Hamilton (via Airbnb)

Hot-air Balloon

Langit biru
Awan putih
Terbentang indah
Lukisan yang kuasa
Ku melayang
Diudara
Terbang dengan balon udaraku

Ada yang baca sambil nyanyi? Yah, ketauan deh kalo kita udah tua. HAHAHAHA. Itu lagu Sherina, judulnya ‘Balon Udara’.

Sejak pertama kali denger lagu itu, gw pengen banget naek balon udara. Makanya gw rela bangun jam 5 pagi, di tengah kedinginan menunggu matahari terbit, kabut memudar, dan angin menjadi lebih bersahabat.

Marokopa Falls

Lokasinya deket sama Waitomo Glowworm Cave, jadi bisa jadi satu paket. Sediakan waktu lebih karena jalan menuju ke sana berkelok-kelok. Jangan seperti kita yang salah perhitungan. Gw sampe pusing karena Mr Hamburger nyetirnya ugal-ugalan cepet-cepet, ngejer waktu supaya tur Waitomo Glowworm Cave kita ga telat. Hahaha.

Hiking trail-nya pendek, 20 menit return. Ditambah foto-foto, jadi 25-30 menit, kecuali kalo kamu pencinta pohon dan harus foto setiap pohon yang kamu lewatin, bisa-bisa jadi 3 jam.

Waitomo Glowworm Cave

Something unusual, gw ga pernah tahu kalo ada makhluk seperti itu eksis. Makhluk apa sih, Stef? Glowworm, nama latinnya udah kaya Harry Potter spell: ‘Arachnocampa luminosa‘. Bahasa gampangnya larva yang ekornya bisa menyala.

Untuk ke sini harus ikut tur, gw beli tur combo (Waitomo + Ruakiri) seharga NZD 94 per orang. Durasi tur nya kira-kira 1 jam. Awal-awal kita dibawa menuju gua yang keren banget. Si tour guide menjelaskan sejarah dan bagaimana gua ini terbentuk.

Setelah itu kita dibawa naek kapal melihat tempat glowworm berada. Glowworm-nya banyaaakkk, rasanya seperti kita melihat langit malam yang penuh bintang. Bedanya, bintangnya warna hijau. Oh ya, di glowworm cave, kita ga boleh mengambil foto / video dan ga boleh berisik juga.

Baru boleh ngambil foto setelah keluar dari gua.

Ruakuri Cave

Keluar dari Waitomo Glowworm Cave, gw langsung ke Ruakuri Cave. Meski letaknya berdekatan, mereka ga berada di satu lokasi. Jaraknya 5 menit naik mobil, siapkan seenggaknya 30 menit buffer dari satu cave tur ke cave tur lainnya.

Pas keluar dari Waitomo Glowworm Cave, gw ngerasa amat takjub atas apa yang baru saja gw liat. Tapi begitu masuk ke Ruakiri Cave, gw langsung jatuh hati sama cave ini. Ini salah satu spot favorit gw di New Zealand! 

Kalo kamu ga punya banyak waktu, gw saranin ambil Ruakiri Cave aja, karena di sini, kamu juga bisa liat glowworm! Memang ga sebanyak di Waitomo Glowworm Cave, karena di sini, subjek utamanya adalah guanya, bukan glowworm-nya.

Hari 4: Senin, 22 April 2019

Huka Falls – Craters of the Moon
Bermalam di Taupo (via Airbnb)

Huka Falls

Setelah perjalanan panjang dari Hamilton, destinasi pertama gw hari ini adalah Huka Falls. Airnya bersumber dari sungai Waikato yang lebarnya 100 meter, yang kemudian menyempit menjadi 15 meter. Penyempitan ini menyebabkan aliran air yang berarus cepat dan kuat.

Craters of the Moon

Seharian ini cuaca lagi moody dan kurang bersahabat. Pas di Huka Falls, hujan turun beberapa kali. Sebentar cerah, sebentar hujan, beberapa menit kemudian cerah lagi. Sulit diprediksi.

Berbekal pengalaman di Huka Falls, kita nekad lanjut ke Craters of the Moon, dengan pikiran: ‘Ah, ujannya kan, cuma bentar-bentar doank’.

Rute satu putaran kira-kira 45 menit. Kira-kira 10 menit pertama, cuaca masih mendung-mendung bagus. Kita masih sibuk ngeliatin asap dan foto-foto. Sepuluh menit kemudian hujan turun rintik-rintik. Kita masih mikir: ‘Ah, ntar lagi juga berhenti’.

Tapi kali ini kita salah. Hujan makin deres. Kita ga bawa payung, karena memang payung itu ga berguna di sini, yang ada baru dibuka udah rusak ditiup angin. Kita juga ga bawa jas ujan, karena… siapa sih yang suka pake jas ujan? Kan, jaket kita waterproof.

Kita terjebak di tengah-tengah, mau balik atau lanjut, sama-sama butuh kira-kira 20 menit an. Kita memutuskan untuk lanjut. Ga ada tempat berteduh sama sekali di sini. Kita cuma bisa pasrah berjalan cepat tanpa bisa liat kiri kanan lagi. Iya sih, jaket kita waterproof, tapiii… celana kita basah kuyup. Sepatu gw pun ikut basah, ketetesan air yang merembes turun dari celana. HAHAHAHA.

Hari 5: Selasa, 23 April 2019

Lava Glass Sculpture Garden – Tandem Skydive
Bermalam di Taupo (via Airbnb)

Lava Glass Sculpture Garden

Sebenernya rencana awalnya itu skydive dulu. Kita udah booking skydive jam 9:20. Tapi karena cuaca masih moody dan berawan, jadwal diundur jadi jam 11.

Untuk mengisi waktu, kita menuju ke Lava Glass Sculpture Garden. Pas kita di sana, kebetulan lagi ada 2 orang glassblowers lagi bikin karya di studio. Kita bisa nonton live dan nanya-nanya langsung. Mr Hamburger terlihat antusias. Gw ga tau YouTube channel mana yang dia tonton, tapi dia ngerti dan bisa jelasin proses-proses yang si glassblowers itu kerjakan. Dia bahkan sampe ikutan sesi tanya jawab!

Setelah sesi tanya jawab, kita masuk ke kebunnya di mana gelas-gelas yang sudah diolah itu dipamerkan dengan uniknya. Kebunnya ga besar, tapi cukup menarik buat dikunjungin.

Keren ya <3

Mendekati jam 11, hujan rintik-rintik, diundur lagi deh jadi jam 1. Kita memutuskan untuk makan siang dan santai-santai dulu.

Tandem Skydive

Gw suka ketinggian. Dari dulu, kalo berada di ketinggian tuh rasanya pengen loncat terbang. Naahhh, daripada gw loncat terus mati konyol, kan mendingan gw nyobain yang aman aja kaya skydiving. Bener ga?

Saking excited-nya, jauh-jauh hari gw udah nanya temen-temen gw gimana rasanya skydiving. Eeehh, gara-gara kebanyakan nanya, niat gw jadi maju mundur.

Gw punya motion sickness yang (agak) parah. Beberapa teman yang pernah skydive menyarankan untuk ‘go for it‘, tapi beberapa bilang:

‘Itu kita naek pesawat kecil baling-baling gitu, Stef. Goyang banget lho!’

‘Pas di pesawat, duduknya ngadep belakang lagi.’

‘Iya jangan Stef, gw abis skydive pusing seharian. Padahal gw kayanya ga punya motion sickness‘.

‘Ntar lo muntah pas lagi skydive lho. Terus muntahannya kena muka lo sendiri. HAHAHAHAHA’

Tapi semua itu udah ga penting lagi karena at the end, I did it!!

Muka gw keliatan aneh karena kacamatanya kenceng banget. Sepertinya sih sengaja dikencengin biar softlense gw ga terbang.

Kisah lengkapnya agak panjang, jadi akan gw tulis di postingan terpisah. Pantengin aja blog gw 🙂

Hari 6: Rabu, 24 April 2019

Tongariro National Park
Bermalam di Palmerston North (via Airbnb)

Tongariro National Park

Tongariro National Park ini besar banget, sampe-sampe gw bingung harus ke mana dan mulai dari mana.

Pas gw di sana, banyak toko dan restoran yang tutup. Di depannya bahkan ada tulisan ‘See you in 2019‘. Gw bingung, ini kan, udah 2019, kok belom buka? Di sekelilingnya juga banyak ski resort yang tutup. Kesimpulan gw: tempat ini happening banget pas winter.

Tujuan pertama gw hari ini adalah Waitonga Fallsair terjun tertinggi di Tongariro National Park. Dari tempat parkir sampe ke air terjunnya kira-kira 4 km return. Rutenya termasuk mudah, gw sendiri alokasiin 2 jam buat bolak-balik dan foto-foto.

Salah satu spot di Waitonga Falls Track
Waitonga Falls, air terjun tertinggi di Tongariro National Park (39 m)

Abis dari Waitonga Falls, kita lanjut ke Mangawhero Falls. Air terjun yang satu ini terkenal karena dijadikan lokasi shooting film LOTR – The Two Towers di mana adegan Smeagol yang sedang menangkap ikan di Forbidden Pool diambil.

Aksesnya mudah, cuma 5 menit berjalan kaki dari tempat parkir. Sayangnya, gw ga liat ada rute untuk turun ke bawah dari tempat gw foto, mungkin aksesnya sudah dibatasi. Kalo penasaran, tanya si Smeagol aja. Hihihi.

Mangawhero Falls

Hari 7: Kamis, 25 April 2019

Weta Workshop –  Zealandia Wildlife Eco-Sanctuary
Bermalam di Wellington (via Airbnb)

Weta Workshop

Kalo kamu suka nonton film dan kamu penasaran sama behind the scene-nya (kostum, alat-alat, setup lokasi, dan lainnya), kamu wajib banget ikut tur di Weta Workshop. Gw ambil Weta Studio Tours Combo, durasi 2 jam, harganya NZD 45 per orang.

Gw ga punya banyak foto di tempat ini karena di beberapa ruangan, kita ga diperbolehkan ambil foto, video, apalagi ambil barangnya (pegang aja ga boleh!).

Zealandia Wildlife Eco-Sanctuary

Masuk sini itu serasa masuk ke hutan, cocok banget buat shooting Forest Survival 101! Di hutan ini ada takahe, gecko (cicak besar), tapi kebanyakan sih burung-burung. Burung-burungnya terbang bebas, jadi kalo mau liat, telinga kamu harus jeli mencari sumber suara.

Meski dari penampilan luarnya keliatan kecil, aslinya lumayan luas. Ada beberapa rute yang bisa dipilih, rute paling pendeknya aja butuh kira-kira 45-60 menit. Tapi begitu masuk, ternyata gw suka, dan rasanya pengen eksplorasi semuanya. Akhirnya gw di sana sampe 2 jam lebih. Itu pun keluar karena udah diusir, sanctuary-nya udah tutup. Gw ga mau tidur di hutan. Hahahaha.

Burung-burung di Zealandia Wildlife Eco-Sanctuary

Hari 8: Jumat, 26 April 2019

Fly to South Island

Pagi-pagi balikin mobil, dan langsung ke airport. South Island, I’m comiinnggg! Itinerary New Zealand South Island akan gw posting di postingan selanjutnya ya.

***

PS: Buat yang belum punya akun Airbnb, bisa join dengan referensi gw dengan meng-klik link INI dan register. Dengan link itu, kamu akan mendapat kredit SGD 45 yang bisa kamu gunakan untuk stay pertamamu! Lumayan, kan!

Share this!

Leave a Reply

  Subscribe  
Notify of