Pregnancy Journey: 02 Prenatal Visit (12 Minggu) – Tes Preeklamsia

Sebelumnya: Pregnancy Journey: 01 Prenatal Visit (8 Minggu) – Dating Scan

Hari ini sebelum check-up, gw mesti ke laboratorium dulu untuk tes preeklamsia. Tes ini enggak wajib, tapi dokter gw bilang ini penting untuk mendeteksi resiko preeklamsia. Eklamsia itu bahaya, bisa mengancam nyawa ibu dan janin. Menurut data, 2-8% ibu hamil mengalami eklamsia. Naahhh, tujuan tes ini adalah untuk mencegah atau menangani preeklamsia (jika memang hasil tes nya beresiko tinggi) sehingga tidak berkembang menjadi eklamsia.

Di tempat gw check-up, laboratorium dan kliniknya satu gedung, beda lantai doank. Klinik di lantai bawah, laboratorium di lantai atas. Enak deh, begitu selesai tes, tinggal turun aja ke klinik.

Tes Preeklamsia

Tes preeklamsia meliputi:

  • Tes tekanan darah
  • Ultrasound
  • Tes darah

Tes Tekanan Darah

Gw dipanggil masuk ke ruangan dan disuruh duduk-duduk santai. Ruangannya kecil, atau mungkin keliatan kecil karena banyak barang. Ada satu tempat tidur, satu kursi pasien, satu kursi suster, satu komputer, dan banyak mesin yang gw ga tau buat apa.

Suster memulai sesi dengan wawancara, nanyain tanggal menstruasi terakhir, kehamilan gw natural atau via IVF, ada riwayat keguguran enggak, dan hal general lainnya seputar kehamilan.

Kemudian gw disuruh duduk yang tegak, bahkan posisi kedua tangan gw sampe diatur harus di mana dan gimana. “Relaks. Tarik napas, buang napas”, dia bilang. Dibilang gitu, gw malah jadi panik!! Kenapa sampe posisi duduk dan posisi tangan aja harus diatur? Emang gw mau diapain?

Eehhh… ternyata cuma tes tekanan darah. Tapi tesnya keren banget. Langsung di dua lengan sekaligus dan tersinkronisasi dengan baik. Alat ukur tensinya besar, ngukurnya otomatis. Proses mengempisnya perlahan-lahan sekali, ga secepat alat ukur tensi yang gw tau. Tes ini diulangi dua kali.

Selesai ukur tensi, gw disuruh minum air yang banyak untuk sesi ultrasound, biar gambarnya lebih jelas katanya. Gw pun keluar ruangan dan menunggu panggilan untuk proses selanjutnya.

Ultrasound

Prosesnya kaya USG biasa tapi jauh lebih mendetail. Yang dicek meliputi organ tubuh janin (lengkap atau enggak), detak jantung janin, aliran darah dari plasenta, ada tidaknya tulang hidung bagian atas (nasal bone), ketebalan kulit tengkuk janin (nuchal translucency), dan lainnya. Organ tubuh janin pun satu per satu ditandai:

Ultrasound saat tes preeklamsia. Meski ukurannya cuma 6 cm, si baby sekarang udah berbentuk manusia!

Selama tes berlangsung, Mr Hamburger ga boleh masuk. Baru 30 menit kemudian setelah tes selesai, Mr Hamburger boleh masuk untuk melihat dan mendengar detak jantung si bayi.

Tes Darah

Tanpa ngambil tes preeklamsia pun, semua ibu hamil diwajibkan tes darah. Karena selain untuk mengecek resiko preeklamsia, ada cek kesehatan lainnya yang juga penting, seperti cek gula darah, thalasemia, hepatitis, rubella, toksoplasma, HIV, sifilis, dan lainnya yang gw ga ngerti. Report-nya panjang, hasil tes darahnya aja sampe 3 halaman sendiri.

Karena ini anak pertama, Mr Hamburger harus tes darah juga untuk cek thalasemia. Thalasemia adalah kelainan genetik yang memengaruhi produksi sel darah merah. Tes ini penting karena penderita thalasemia minor tidak bergejala dan mungkin tidak tahu kalo dia membawa gen thalasemia. Ideally sih, sebelum menikah atau sebelum punya anak mesti tes kesehatan dulu, tapi untuk kasus gw sudah terlambat…

Darah yang diambil lumayan banyak, gw 3 tube, Mr Hamburger 2 tube.

Check-up di Klinik

Setelah tes preeklamsia selesai, gw ke klinik ketemu dokter kandungan. Kliniknya satu gedung sama laboratorium, tinggal pencet lift turun beberapa lantai doank.

Pas baru mulai USG, si dokter ngelawak. Eehhh gara-gara gw ketawa, si baby langsung balik badan. Padahal posisinya tadi lagi bagus.

Deteksi tulang hidung bayi.
PS: Tidak ditemukannya gambaran tulang hidung pada janin usia 11-14 minggu adalah salah satu gejala Down syndrome

Untuk vitamin trimester kedua, dokter ngasih multivitamin, minyak ikan, dan kalsium tablet. Pilnya gede-gede semua, yang kalsium tablet malah harus minum 2 kali sehari pula! Hiks. Minum aja udah bikin mual, eehhh, sekarang harus minum pil gede-gede pulaaa…

Terakhir, dokter nanyain kondisi morning sickness gw.

Stef: I still feel bloated and gassy, no appetite to eat. 

Dokter: “That’s normal, it will get better.”

Stef: “I can’t drink water as well. It makes me want to vomit.”

Dokter: “You can drink milk, soup, tea / coffee (but limit to 1 cup per day), or eat fruit, not necessary water.”

Dokter: “Do you have constipation?”

Stef: “I did. But now I drink Yakult daily, and it helps.”

Dokter:DON’T drink Yakult, it’s too much sugar, later the baby big. Try prune juice.”

Stef: “Okay…”

Dokter: “Do you still take the medicine for vomiting? Do you need more?”

Stef: “I didn’t really take that. I don’t like it, it makes me drowsy. I fell asleep soon after I took it. I cannot work if I am sleepy.”

Dokter: (Dengan nada bercanda) “That’s the point. I don’t want you to work, I want you to sleep, rest. If I want you to work, I will give you caffeine, coffee.”

Mr Hamburger malah ketawa-ketawa.

Mereka berdua memang selera humornya aneh…😒

Berikutnya: Pregnancy Journey: 03 Prenatal Visit (16 Minggu) – Break the News

Share this!
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments