Pregnancy Journey: 01 Prenatal Visit (8 Minggu) – Dating Scan

Sebelumnya: Pregnancy Journey: I Am Pregnant!

Sebagai first time mom dan belum pernah ke dokter kandungan sebelumnya, gw awalnya bingung harus ngapain, mau lahiran di mana, milih dokter kandungan yang mana… Setelah melihat puluhan forum dan membaca puluhan review, akhirnya pilihan kita jatuh ke Dr Benjamin Tham yang praktik di WC Cheng & Associates.

Baca Juga: Pregnancy Journey: Memilih Dokter Kandungan

Dr Tham (kalo ngomong ke bayi, dia menyebut dirinya Uncle Ben) punya praktik bersalin di Mount Elizabeth Novena Hospital (Mt E Novena), Thomson Medical Centre (TMC), dan Mount Alvernia Hospital (MAH). TMC dan MAH merupakan dua rumah sakit yang jadi pertimbangan gw, tapi sampe sekarang belum diputuskan mau melahirkan di mana. Nanti-nanti saja dipikirkan lagi kalo sudah deket hari H. Hehehe.


Bikin Appointment

Saat usia kehamilan di akhir minggu ke 6, Mr Hamburger nelpon ke klinik untuk bikin appointment. Di telepon, perawatnya cuma nanya tanggal menstruasi terakhir, ada riwayat keguguran atau enggak, ada riwayat kelainan darah seperti thalasemia atau ga, dan kondisi istri saat ini.

“Semua kedengeran bagus. Saya reserve slot untuk check-up tanggal sekian (nyebutin tanggal 2 minggu lagi — minggu ke 8 kehamilan gw) dan jam sekian, ya. Kalo sekarang masih terlalu kecil, di USG ga keliatan apa-apa,” jawab si perawat.

Pendaftaran

Sebagai pasien baru, gw diharuskan mengisi formulir pedaftaran dulu. Formulirnya tentang data diri dan pasangan, seperti: nama, alamat, nomer identitas penduduk, nomer handphone, dan lainnya.

Timbang berat badan

Setiap check-up harus timbang berat badan.

Tes Urin

Ada 3 komplikasi umum yang kerap terjadi saat kehamilan: Diabetes gestasional, preeklamsia, dan infeksi saluran kemih. Ketiganya bisa dideteksi dari urin. Maka itu, setiap check-up kehamilan diwajibkan tes urin.

Tenang, gelasnya disiapin, ga perlu bawa sendiri.

Riwayat Diri dan Keluarga

Setelah mengisi formulir pendaftaran, timbang berat badan, dan pipis di gelas, gw dipanggil salah seorang perawat untuk di-‘wawancara’.

Perawat: “You are pregnant right?”

Stef: “Yes.”

Perawat: “You took the pregnancy test?”

Stef: “Yes.”

Perawat: “Did you test twice?”

Stef: “Oh, do I have to test twice?”

Perawat: “No no. It’s just that some people test it multiple times, you know… just to be sure.”

Stef: “Eeerr… I am quite sure I am pregnant.”

Setelah percakapan ga jelas itu, si perawat menanyakan hal-hal lain seputar gw dan riwayat keluarga, seperti:

  • Umur, golongan darah, dan tanggal terakhir menstruasi.
  • Riwayat gw, pasangan, orang tua gw, dan orang tua pasangan. Apakah ada yang menderita diabetes, darah tinggi, kanker, atau kelainan darah?
  • Apakah gw ada riwayat kista, keguguran, atau kelainan darah (seperti talasemia)?
  • Nafsu makan, kualitas tidur, frekuensi buang air kecil dan buang air besar.
  • Puting payudara ke luar atau masuk ke dalam?

Ukur Tensi

Setiap check-up, sebelum ketemu dokter, tensi gw bakal diukur.

Konsultasi

Urusan tetek bengek selesai, akhirnya gw dipanggil masuk ke ruangan dokter. Dari pengamatan gw, usianya sekitar 50an, cukup ramah, dan profesional.

Dengan bantuan seorang perawat (selalu ada seorang perawat wanita di dalem ruangan), gw berbaring di tempat tidur dengan perut terekspos. Si dokter ngasih gel di atas perut gw dan menggerak-gerakan alat ultrasound.

JENG JENG JENG! Gw liat di layar ada sesuatu yang berbentuk seperti… KACANG METE. WHAT, is that a baby? Why it looks like a cashew nut? Otak gw bertanya-tanya sementara si dokter sibuk mengukur dimensi si ‘kacang mete‘. Dari hasil pengukuran, dokter menyatakan usia kehamilan gw adalah 8 minggu 3 hari.

Apakah aku mirip kacang mete?

“Do you want to hear the heart beat?” si dokter nanya. Gw dan Mr Hamburger tentunya mengiyakan.

Jedag jedug jedag jedug jedag jedug…

WAAHH SI ‘KACANG METE’ PUNYA JANTUNG DAN BERDETAK CEPAT SEKALI!!

Dokter: “It’s a real baby! Congratulations!”

Stef: “Waahh, thank you.” (Noleh ke Mr Hamburger) See, I’m not fat, it’s a baby.”

Dokter: (Dengan nada bercanda) “Eeehhhh… baby so small, less than 2 cm. I think the rest is fat.”

Mr Hamburger: “Seee… Doctor also said you are fat.”

Yaelah, ini dokter kenapa ikut-ikutan ngeledekin gw gendut sih?

Perawat membersihkan perut gw dari gel. Setelah itu, gw pun duduk mendengarkan penjelasan dokter.

Dokter: “Chinese doctors say everything cannot eat. Western doctors say everything can eat. Mana yang bener?”

Stef: “Eerr… I don’t know.”

Dokter: Dr Tham (nyebut diri sendiri) bilang semua boleh makan, asal in moderation dan Dr Tham yang paling bener.”

Gw: “Half-boiled egg can?”

Dokter: “Can.”

Gw: “Salmon sashimi?”

Dokter: “Also can. Buutt… in moderation. Don’t go for sashimi buffet every day.”

Dokter juga menjelaskan hal-hal lain yang intinya:

  • Morning sickness yang gw rasakan (mual, kembung, perut berasa penuh gas kaya mau meledak, ngantuk, ga selera makan / minum) itu semua normal. Biasanya akan membaik saat memasuki trimester kedua.
  • Usia kandungan gw hari ini adalah 8 minggu 3 hari.
  • Hari perkiraan lahir (HPL) nya 11 Januari. Pada check-up selanjutnya, kalkulasi usia kandungan dan HPL bisa bergeser, tergantung ukuran dan berat bayi, tapi cuekin aja. Usia kandungan dan HPL yang paling akurat, ya, hasil check-up hari ini.
  • Delapan puluh persen (80%) ibu melahirkan sebelum HPL, cuma 20% yang melahirkan setelahnya.
  • Dikasih selembar foto USG. Check-up selanjutnya disarankan bawa thumb drive untuk menyimpan hasil USG.
  • Makan dan minum apa aja boleh. Yap, termasuk salmon sashimi atau telur setengah matang. Hanya saja porsinya dibatasin.
  • Boleh naik pesawat atau jalan-jalan ke mana aja, sampe 1 bulan sebelum HPL.
  • Boleh olahraga, asal bukan yang ekstrim.
  • Dilarang minum alkohol dan merokok. Dua ini big NO NO.
  • Dikasih suplemen folic acid 5 mg, vitamin B6, dan obat anti muntah.
  • Dokter menjelaskan tentang preeklamsia, serta pentingnya pre-eclampsia screening untuk mendeteksi resiko preeklamsia, biar kalo beresiko tinggi, bisa dicegah atau diobati lebih awal.
  • Dokter menawarkan opsi One-Stop Clinic for Assessment of Risk (OSCAR) atau Panorama Non-Invasive Prenatal Testing (NIPT) untuk mendeteksi Down Syndrome atau kelainan genetik lainnya. Tes ini juga bisa dipakai untuk mendeteksi jenis kelamin bayi. Kedua tes ini paling baik dilakukan saat usia kehamilan 11-13 minggu. Tes ini sifatnya tidak wajib.

PS: Saran di atas itu merupakan saran dari dokter kandungan gw, untuk gw. Kondisis kehamilan setiap orang berbeda-beda. Tempat tinggalnya juga berbeda-beda. Beda tempat tinggal, bisa beda regulasi kebersihan tempat makannya. Baiknya sih, ikuti petunjuk dokter kandungan masing-masing.

Bikin Jadwal Check-up Selanjutnya

Keluar dari ruangan dokter, kita langsung diarahkan ke ‘apotek’. Apoteknya pake tanda kutip karena selain menjadi tempat pengambilan obat, ruangan ini juga berfungsi sebagai tempat pembayaran, tempat informasi, dan tempat bikin jadwal check-up selanjutnya.

Begitu duduk, kita ditanya apakah mau lanjut terus sama Dr Benjamin Tham? Kita meng-iyakan. Lalu kita di-briefing soal paket prenatal untuk 10 kali konsultasi (yang tentunya lebih murah dibanding ala carte), biaya melahirkan oleh Dr Benjamin Tham, serta biaya kamar di Thomson Medical Centre.

Kesan pertama gw sama dokter tersebut so far so good, meski gw dibilang gendut. Dokternya ramah, humoris, chill, dan review-nya di Internet oke. Walau ga dipaksa memutuskan hari itu juga, tapi tanpa ragu, gw langsung bilang ke perawat kalo gw ambil paket prenatalnya.

Perawat kemudian nawarin pre-eclampsia screening dan tes untuk kelainan genetik (OSCAR atau Panorama test). Gw menolak karena mahal banget harganya (dan ga mau tau juga)! Gw cuma ambil pre-eclampsia screening doank karena dokter bilang ini penting. Berhubung gw ga ambil tes genetik, gw diminta menandatangani surat pernyataan, intinya gw sudah ditawarkan tes genetik tapi ga mau, dan tetap akan melanjutkan kehamilan tanpa tahu ada tidaknya masalah genetik pada bayi gw.

Note: Di Singapura, tes untuk kelainan genetik (OSCAR atau Panorama) memang ditawarkan ke setiap ibu hamil. Beberapa tidak peduli, beberapa mau ngetes. Beberapa melakukan aborsi bila ditemukan kelainan genetik pada bayi. Aborsi itu legal di Singapura, asalkan dilakukan sebelum usia kehamilan 24 minggu. Lebih aman lagi kalo dilakukan sebelum usia kehamilan 13 minggu.

Tes preeklamsia gw dijadwalkan bersamaan dengan jadwal prenatal check-up berikutnya, yaitu usia kehamilan 12 minggu.

Perawat ngasih gw tiga bungkus obat: folic acid 5 mg, vitamin B6, dan obat anti muntah, kemudian mengarahkan kita ke kasir untuk melakukan pembayaran.

Folic acid 5 mg, vitamin B6, dan obat anti muntah

Selesai sudah kunjungan pertama gw ke dokter kandungan. Ternyata tidak menyeramkan, justru sangat berkesan 🙂

Inilah pertama kalinya gw bisa liat bayi gw dan mendengar detak jantungnya!

Berikutnya: Pregnancy Journey: 02 Prenatal Visit (12 Minggu) – Tes Preeklamsia

Share this!
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments