Pregnancy Journey: 04 Prenatal Visit (20 Minggu) – Fetal Anomaly Scan

Sebelumnya: Pregnancy Journey: 03 Prenatal Visit (16 Minggu) – Break the News

Fetal anomaly (FA) scan, atau dikenal juga dengan anatomy scan, adalah USG untuk melihat semua bagian tubuh janin, posisi janin, posisi plasenta, organ tubuh janin, serta menentukan apakah semuanya keliatan oke.

Scan-nya dilakukan di laboratorium, bukan di klinik dokter kandungan gw. Durasinya sekitar 30 menit, bisa lebih lama kalo posisi janin kurang mendukung… kaya bayi gw. Kepalanya di bawah dan ngadep ke belakang terus. Dokter sampe kesulitan buat liat jari-jari tangan, jari-jari kaki, dan mukanya. Pas diguncang-guncang pun, dia cuma noleh sebentar doank sambil bilang, “Jangan gerak-gerak donk, mau bobo nih…”

Gw ga tau kidneys-nya yang mana…

Selain organ tubuh bayi, FA scan juga digunakan untuk mendeteksi letak plasenta. Hasil scan menunjukkan kalo plasenta gw menempel di sisi depan rahim, yang dekat dengan bagian perut gw. Istilah medisnya disebut plasenta anterior. By the way, plasenta yang normal terletak di sisi belakang rahim, atau disebut juga dengan plasenta posterior.

Plasenta posterior vs. plasenta anterior (Pregmed.org, 2019)

Kondisi plasenta anterior gw mempunyai resiko tersendiri seperti kontraksi yang lebih sakit, proses melahirkan yang lebih lama, sampai kemungkinan caesar yang lebih besar, dan lainnya. Tapi gw ga akan bahas itu di postingan kali ini.

Karena plasenta anterior ini juga, gerakan bayi dan denyut jantung bayi gw jadi lebih sulit dideteksi. Sampe usia kehamilan 20 minggu ini pun, gw masih belum bisa merasakan tendangan-tendangan bayi gw. Huhuhuhu.

Menurut scan, jenis kelaminnya perempuan. Tapi ga bisa pasti 100%, pasti 100% nya cuma setelah bayinya lahir. Karena bisa aja sebenernya laki-laki, tapi pas di USG, penisnya ga keliatan karena posisinya kurang menunjang (atau penisnya belum tumbuh ?). Beda kalo pas di USG keliatan penisnya, 99.99% itu laki-laki.

Lima-sepuluh menit kemudian, hasil fetal anomaly (FA) scan jadi. Berbekal hasil scan dalam amplop besar, gw ke klinik ketemu dokter kandungan gw.


Menurut hasil tes darah bulan lalu, jumlah sel darah tinggi, sampe 14.000 (normalnya 4.000 – 11.000). Karena itu, sesampainya di klinik, gw harus tes darah lagi untuk cek apa sel darah putih gw udah normal atau belum.

Tesnya cepet, cuma di cus di jari manis, dimasukin ke sebuah alat, tunggu beberapa detik, dan keluar deh hasilnya. Ta da! Untuunnggg hasilnya sudah normal, check-up selanjutnya gw ga perlu di cus lagi.

Karena gw ambil fetal anomaly (FA) scan, dokter ga melakukan USG lagi. Dia cuma membaca hasil scan, terus bilang kalo semua normal. Dokter juga ga begitu membahas letak plasenta gw, asalkan plasenta ga menutupi jalan lahir, tidak perlu dikhawatirkan.

Gw disarankan untuk vaksin flu dan vaksin TDAP (Tetanus, Diphtheria, Pertussis). Vaksin flu sifatnya tidak wajib, boleh vaksin kapan saja, asal sebelum bayinya keluar, ya. Hehehe. Kalo vaksin TDAP itu wajib, mengingat tetanus dan pertussis (batuk rejan) bisa membahayakan bayi. Vaksin TDAP biasanya dilakukan pada trimester ketiga (minggu ke 27-36).

Later I remind you again on third trimester for your TDAP vaccine, okay?” kata si dokter mengakhiri sesi check-up hari ini.

Berikutnya: Pregnancy Journey: 05 Prenatal Visit (24 Minggu) – Breech Baby

Share this!
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments