Pregnancy Journey: 07 Prenatal Visit (32 Minggu) – No Episiotomy

Sebelumnya: Pregnancy Journey: 06 Prenatal Visit (28 Minggu) – Gestational Diabetes Test

Hasil USG menunjukkan kalo ukuran badan bayi agak kecil, tapi ukuran kepalanya bagus. Gw ga heran sih, kalo bayinya kecil, orang sampe sekarang aja gw makan masih harus dipaksa-paksa. Gw masih ga ada selera makan, makan / minum kebanyakan dikit langsung ngerasa kembung dan mual. Sigh.

Foto USG ukuran kepala 32 minggu

Untuk menambah berat badan bayi, dokter menyarankan gw untuk makan banyak protein.

Gw: Sayang, kata dokter, aku mesti makan banyak protein… Harus makan steak tiap hari.

Mr Hamburger: Enggak usah, steak mahal. Kamu makan telur aja tuh, sumber protein murah meriah. Sehari makan 2 juga boleh.

Gw:

Selain berkomentar tentang berat badan bayi, dokter juga ngasih tau kalo di era sekarang, dokter kandungan sudah ga mempraktikkan episiotomi (gunting vagina untuk memperbesar jalan lahir) kalo dirasa tidak perlu. Sobek secara alami jauh lebih bagus karena resiko infeksi dan pendarahan lebih kecil, serta penyembuhan juga lebih cepat dibanding episiotomi.

Episiotomi hanya dilakukan kalo dokter merasa perlu saja, seperti misalnya:

  • Bayi dalam bahaya dan harus dikeluarkan secepat mungkin (detak jantung menurun, dan lainnya).
  • Bayi besar.
  • Dokter perlu ruangan ekstra untuk membantu persalinan, seperti melahirkan dengan bantuan forceps atau vakum.
  • Area perineum yang kaku, sehingga dinilai lebih aman kalo digunting dengan rapi daripada nanti robeknya tidak beraturan.

Nah, untuk mengurangi resiko robeknya vagina saat melahirkan, dokter gw merekomendasikan:

  • Pijat perineum.
  • Epi-No — kata dokter ini lebih efektif. Dia bahkan punya alatnya dan mendemonstrasikan cara pakenya ke gw.

Keduanya hanya boleh dilakukan setelah usia kehamilan 35 minggu.

Gw ga ngelakuin pijat perineum jadi gw ga bisa bahas tentang itu. Gw pilih pake Epi-No aja. Tentang Epi-No, akan gw bahas di postingan lain, ya. Tunggu aja.


Di usia kehamilan 35 minggu ini gw juga memutuskan untuk ambil vaksin flu. Vaksin flu ini tidak wajib, namun alangkah baiknya kalo ibu hamil ambil vaksin flu. Vaksin ini aman untuk ibu hamil dan antibodinya bisa sampe ke bayi!

Gw: Dok, gw mau ambil vaksin flu tapi semalem tidurnya kurang, cuma 3-4 jam.

Dokter: Oh tenang aja, gw ga suruh lu nyuntik sendiri kok. Kan, suster yang nyuntik. Gw yakin suster-suster di sini tidurnya semalem nyenyak semua.

Gw: ….

Uuhh… dokter ini masih belum waras juga rupanya!


Dokter kemudian memberikan gw brosur signs of labour dan menjelaskan tanda-tanda melahirkan sudah dekat dan kapan harus ke rumah sakit. Tanda-tanda tersebut meliputi kontraksi yang makin lama makin kuat, air ketuban pecah, atau keluarnya lendir bercampur darah.

If you see any signs of labor, please go straight to the hospital. No need to call or SMS, or worse… email the clinic.

Don’t call 999 (emergency number) or 995 (hospital emergency number). They will fetch you in an ambulance and will bring you to nearest government hospital. They will NOT bring you to Thomson! And no, you cannot ask them, they are not your personal driver.

It’s better NOT to take public transport when you are in pain. If your husband drives, please drive safely. If you take Gr*b, don’t tell the Gr*b driver that you are in labor, later no driver will want to pick you up. Just wait until the driver arrives, you go in and sit down. Only then you can tell the driver that you are in labor and ask to drive a little faster. They have no choice already except to bring you here.

Selain itu, dokter juga memberikan brosur tentang opsi pereda rasa sakit dari yang paling ringan sampai paling efektif:

  • Laughing gas atau gas ‘tertawa’ atau gas entonox. Pasien pake sendiri, tinggal ambil maskernya dan dihirup.
  • Suntik opioid. Suntiknya dilakukan di otot paha, katanya sih, dapat bertahan selama 6 jam.
  • Epidural Analgesia (EA) dan Combined Spinal-Epidural Analgesia (CSEA). Ini yang paling efektif.

Dokter gw pro pain-relief. Dia bilang kalo ga kuat, langsung minta epidural aja, ga usah pake laughing gas atau suntik opioid. Semua memang efek sampingnya, termasuk epidural, tapi resikonya sangat kecil. Banyak yang bilang epidural bikin sakit punggung, dokter gw bilang itu ga bener. Epidural ga bikin sakit punggung, postur tubuh yang tidak benar lah, yang bikin sakit punggung.


Keluar dari ruangan dokter, salah seorang perawat memberikan gw amplop berisi admission form. Dokumen ini harus gw tanda tangan dan gw bawa kemana-mana sampe nanti melahirkan. Di dalamnya terdapat:

  • Data diri gw (nama, nomer identitas, alamat, dan lainnya).
  • Ringkasan riwayat kesehatan gw saat kehamilan (nama dokter kandungan, golongan darah, ada pre-eklamsia / eklamsia atau ga, ada diabetes atau ga, ada group B strep (GBS) atau ga, mau nyimpen darah tali pusat (cord blood) atau ga, dan juga instruksi dokter untuk perawat yang gw tidak begitu mengerti.
  • Consent form (formulir persetujuan) tentang opsi pereda rasa sakit dan resiko / efek sampingnya. Form ini harus gw dan Mr Hamburger (sebagai saksi) tanda tangan.
  • Consent form (formulir persetujuan) untuk persalinan normal dan caesar beserta penjelasan tentang resiko masing-masing. Form ini harus gw dan Mr Hamburger (sebagai saksi) tanda tangan. Walau rencananya mau normal, semua ibu hamil tetep harus tanda tangan consent form untuk melahirkan secara caesar. Tujuannya, kalo terjadi apa-apa saat melahirkan dan bayi harus dikeluarkan secara segera, mereka ga perlu ribet urusan tanda tangan lagi.

Dokumen-dokumen di atas harus ditanda tangan ditaro di satu amplop dan bisa langsung diberikan ke resepsionis saat tiba di rumah sakit. Karena… ga lucu kan, kalo kamu lagi kontraksi sakit-sakitnya, terus mereka nyuruh kamu isi formulir dulu dan tanda tangan?

Share this!
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments